Markus 7:18  Maka jawab-Nya: “Apakah kamu juga tidak dapat memahaminya? Tidak tahukah kamu bahwa segala sesuatu dari luar yang masuk ke dalam seseorang tidak dapat menajiskannya,

Percakapan di atas merupakan penjelasan Yesus kepada murid-murid-Nya yang tidak mengerti mengenai apa yang Yesus katakan kepada orang-orang Farisi itu. Ketika itu Yesus mengecam orang-orang Farisi yang lebih mementingkan adat istiadat orang Yahudi daripada perintah Allah. Sebaliknya, Yesus mengajarkan kepada mereka untuk lebih mementingkan perintah Allah daripada

adat istiadat semata-mata. Yesus tidak berkata bahwa semua adat istiadat nenek moyang Yahudi adalah salah, namun ada adat istiadat yang tidak sesuai dengan perintah Allah. Sesungguhnya saat itu Yesus sedang mengingatkan orang-orang untuk menempatkan perintah Allah di tempat yang semestinya, yaitu di atas segala hukum dan peraturan manusia.

Lebih lanjut, Yesus kemudian menekankan untuk tidak menaruh hal-hal lahiriah, yang terlihat baik dari luar dan tampak rohani sebagai hal yang utama seperti yang diyakini dan dilakukan oleh orang-orang Farsi itu, karena Tuhan lebih melihat kepada motivasi yang ada dalam diri seseorang dibanding tampilan luarnya. Ini tidak berarti bahwa semua yang terlihat baik dari luar sudah pasti salah, namun apa yang ada dalam diri sesorang belum tentu sebaik apa yang ditampilkannya. Apa yang terlihat baik oleh mata jasmani kita belum tentu berkenan di hadapan Tuhan. Orang-orang Farisi lebih senang akan hal-hal yang terlihat baik dari luar supaya mereka dipandang sebagai orang-orang yang rohani. Cara pandang orang Farisi tentang konsep kekudusan yang lebih menekankan kepada tampilan luar saja jelas-jelas ditentang oleh Yesus yang justru lebih menekankan pentingnya motivasi dan hal-hal yang ada dalam hati seseorang, sebagai dasar perkenanan Allah.
Hal yang membuat Yesus tidak kalah berang adalah ketika Ia mendapati bahwa murid-murid yang sejak awal sudah mendengarkan percakapan-Nya dengan orang Farisi ini ternyata tidak memahami maksud Yesus yang sebenarnya sehingga kemudian Yesus berkata: “Apakah kamu juga tidak dapat memahaminya? Tidak tahukah kamu . . .  .” Pertanyaan Yesus kepada para murid ini menunjukkan keheranan Yesus kepada para murid yang awalnya terkesan mengerti apa yang sedang dibicarakan Yesus, namun ternyata tidak. Pertanyaan inilah yang menjadi pesan Tuhan bagi kita di minggu ini. Bukan masalah materi percakapan Yesus dengan orang Farisi yang menjadi topik utamanya, melainkan lebih kepada keheranan Yesus akan ketidakmengertian murid-murid atas apa yang dikatakan Yesus, dimana semestinya mereka sudah paham.
Kalimat “Apakah kamu juga tidak dapat memahaminya? Tidak tahukah kamu . . .  .” di dalam versi Amplified Bible berbunyi: “Then are you also unintelligent and dull and without understanding? Do you not discern and see . . .  .”, yang berarti: Apakah kamu begitu tidak cerdas, tumpul dan tanpa pengertiannya. Apakah kamu
tidak dapat membedakan dan melihat. . .  . Pertanyaan ini merupakan teguran keras dari Yesus karena Ia menilai bahwa untuk perkara di atas, seharusnya murid-murid sudah cukup dewasa dan mampu untuk mengerti, namun kenyataannya tidak demikian. Masih ingatkah dengan pesan Tuhan tentang berdoa dan berjaga-jaga di minggu lalu? Mengapa pada waktu Yesus mengajak murid-murid untuk berdoa dan berjaga-jaga di taman Getsemani mereka malah tertidur lelap? Jawabannya adalah karena mereka kurang cakap untuk menangkap perkataan Yesus dan tidak memahami situasi yang akan terjadi di waktu kemudian.
Tuhan mau hari-hari ini kita, para murid, menjadi orang-orang yang tajam dan cepat mengerti apa yang menjadi maksud dan tujuan Tuhan, di antaranya adalah:

(1). Memahami tujuan Kerajaan Sorga

Kis.1:6  Maka bertanyalah mereka yang berkumpul di situ: “Tuhan, maukah Engkau pada masa ini memulihkan kerajaan bagi Israel?”

Setelah masa kebangkitan Yesus dari kematian, murid-murid bertanya kepada-Nya, apakah pada masa itu Ia mau memulihkan kerajaan bagi Israel. Ada cara pandang yang berbeda antara Yesus dengan murid-murid-Nya. Meski ayat 3 menyatakan: Sebab selama empat puluh hari Ia berulang-ulang menampakkan diri dan berbicara kepada mereka tentang Kerajaan Allah, namun kenyataannya murid-murid masih belum menangkap maksud Yesus. Setelah kebangkitan-Nya, Yesus memang terus-menerus berbicara kepada murid-murid-Nya tentang maksud dan tujuan Kerajaan Allah, tentang apa yang harus dilakukan para murid setelah kenaikan-Nya ke Sorga dan hal-hal apa yang harus dipersiapkan menjelang kedatangan-Nya yang kedua kali nanti.
Saat Yesus berbicara tentang rencana Allah dalam lingkup besar yaitu Kerajaan Allah yang kekal, murid-murid malah berfokus pada lingkup yang lebih kecil, yaitu kerajaan Israel, pemulihan bagi negeri mereka sendiri agar terlepas dari penjajahan Romawi. Ini menyiratkan bahwa murid-murid sedang berbicara tentang kepentingan pemulihan diri mereka sendiri. Tuhan bukannya tidak mau peduli dengan urusan diri pribadi kita, namun seringkali banyak orang datang kepada Tuhan hanya semata-mata demi kepentingan dirinya sendiri. Seiring dengan pertumbuhan rohani kita yang semakin dewasa, Tuhan mau agar kita juga peduli dan ikut ambil bagian dalam kepentingan Sorga dan bangsa.

(2). Memahami diri pribadi kita

1 Kor. 6:19  Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah, — dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri?

Kata “tidak tahukah kamu” yang digunakan rasul Paulus kepada jemaat di Korintus menunjukkan bahwa masih banyak umat Tuhan yang tidak menyadari bahwa diri kita sudah bukan milik kita sendiri lagi, melainkan sudah menjadi milik Tuhan Yesus sepenuhnya. Karena lewat kematian-Nya di atas kayu salib Ia telah menebus diri kita dari dosa dengan membayarkannya secara tunai melalui curahan darah-Nya yang mahal. Dan dengan tubuh yang sudah bukan milik diri pribadi kita ini lagi, Tuhan ingin agar sejak saat menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruslamat, kita memuliakan Tuhan Yesus dengan tubuh kita.

Namun kenyataannya, banyak umat yang tidak menyadari keberadaan dirinya. Merasa tubuhnya masih sebagai milik pribadinya sendiri, sehingga ia menggunakan tubuhnya untuk dipakai sebagai alat yang tidak memuliakan Tuhan, seperti percabulan, kecemaran, perbuatan dosa, dll. Tuhan mau kita mengetahui bahwa tubuh kita adalah bait Roh Kudus, tempat di mana Roh Allah berdiam dan melakukan karya-Nya melalui kita. Tubuh kita juga dikatakan sebagai Rumah Doa, karena itu jadikanlah diri kita sebagai alat pembangun hubungan dengan Tuhan, berdoa dan berjaga-jaga senantiasa.

Mari umat Tuhan, lewat pesan Tuhan ini Ia mau kita menjadi murid-murid yang mengerti dan paham akan maksud dan isi hati Tuhan, dan bukan menjadi umat yang tumpul dan tidak tahu apa-apa serta tidak mau tahu tentang keadaan zaman yang sedang terjadi hari-hari ini. Pahami dan bertindaklah dengan tepat seperti yang Tuhan inginkan tentunya.

Tuhan Yesus memberkati!

10 Maret 2013 – Memiliki Hati Yang Paham (Teachable Spirit Bag. 8)

| Warta Jemaat | 0 Comments
About The Author
-

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.