Mat. 9:28  “Setelah Yesus masuk ke dalam sebuah rumah, datanglah kedua orang buta itu kepada-Nya dan Yesus berkata kepada mereka: “Percayakah kamu, bahwa Aku dapat melakukannya?” Mereka menjawab: “Ya Tuhan, kami percaya.”

Peristiwa ini terjadi setelah Yesus membangkitkan anak Yairus, kepala rumah ibadat, dari kematian. Ketika Yesus melanjutkan perjalanan-Nya, ada dua orang buta yang mengikuti-Nya sambil berseru-seru memohon belas kasihan dari Yesus agar mereka dapat beroleh kesembuhan  bagi mata mereka. Akhirnya, setibanya di sebuah rumah, Yesus menjamah dan mencelikkan mata mereka dari kebutaan. Maka terbukalah mata mereka, dan mereka memasyhurkan nama Yesus ke seluruh daerah itu.

Tuhan mau kita belajar sesuatu dari peristiwa di atas. Sebagai murid-murid Kristus yang telah diberikan kuasa dan otoritas, dan telah menerima Amanat Agung untuk pergi dan menjadikan semua bangsa sebagai murid Kristus, kita berhadapan dengan banyak “orang-orang buta”, yaitu orang-orang yang mengalami kebutaan, baik secara fisik maupun rohani. Adalah tugas setiap kita para murid Kristus, untuk mencelikkan setiap kebutaan tersebut. Ketika mata orang-orang buta itu menjadi celik, maka kita percaya bahwa nama Yesus bukan hanya akan dikenal sebagai Pribadi Penyembuh saja, tetapi juga sebagai Sang Juruselamat.

Agar kita lebih mengerti tentang hal ini, mari kita belajar dari Tuhan Yesus ketika Ia memulihkan kedua orang buta tersebut:

(1). Diperlukan iman kepada Yesus untuk menerima pencelikkan.

Mat. 9:28 . . .  “Percayakah kamu, bahwa Aku dapat melakukannya?” Mereka menjawab: “Ya Tuhan, kami percaya.”

Apapun jenis kebutaan yang dialami seseorang, entah yang bersifat jasmani atau rohani, tetap diperlukan iman kepada Yesus Kristus untuk menerima pemulihan.

Kesungguhan kedua orang buta ini sudah diperhatikan oleh Yesus sejak awal mereka mengikuti perjalanan Yesus dari rumah Yairus sampai kemudian tiba di sebuah rumah lain. Sejak dari tempat di mana banyak orang berkumpul membicarakan tentang mujizat yang dilakukan Yesus, hingga tiba di sebuah tempat yang sepi, yaitu di dalam sebuah pondok. Kita  bisa membayangkan situasi dan kondisi jalanan pada waktu itu dan betapa sulitnya perjalanan yang harus ditempuh kedua orang buta tersebut. Dalam kondisi tidak dapat melihat, mereka harus berjalan sambil terus berseru memohon belas kasihan kepada Yesus, hingga mereka akhirnya tiba di sebuah rumah di mana Yesus berada di dalamnya.

Saat mereka tiba di dalam rumah tersebut, Yesus masih harus kembali menegaskan kepada kedua orang buta tersebut tentang iman kepercayaan mereka. Apakah mereka percaya bahwa Yesus sanggup melakukannya atau tidak. Sesungguhnya, Yesus tidak sedang mempersulit kedua orang buta tersebut. Yesus seringkali memberikan kesempatan kepada orang-orang untuk mengekspresikan kesungguhan hati mereka dalam mencari diri-Nya. Yesus ingin memastikan apakah pengejaran kepada diri-Nya hanya sekedar didasari trend ikut-ikutan ataukah karena memang percaya dengan segala kesungguhan hati kepada pribadi-Nya.

Ini terbukti ketika kemudian Yesus menjamah mata kedua orang buta dan memulihkan penglihatan mereka sambil berkata,  “Jadilah kepadamu menurut imanmu.” (Mat. 9:29).

Yesus ingin semua hal yang dirindukan orang-orang dapat tergenapi, namun Ia juga rindu bahwa semua itu terjadi bukan atas dasar karena orang-orang memercayai hal-hal yang lain, seperti percaya kepada manusia, benda, dll., namun karena sungguh-sungguh percaya kepada diri pribadi Yesus saja. Adalah tugas kita untuk menuntun orang-orang agar memiliki iman kepada Yesus, bukan kepada hal-hal yang lain, bahkan juga bukan kepada diri kita.

(2). Yesus bukan sekedar mencelikkan kebutaan jasmani, tetapi juga rohani.

Luk. 4:18-19 “Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, . . .  untuk memberitahukan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, . . .”.

Sangatlah mudah bagi Yesus untuk sekedar mencelikkan mata jasmani seseorang dari kebutaan, atau menyembuhkan seseorang dari sakit-penyakit apapun, namun Yesus lebih memilih untuk “mencelikkan” mata rohani seseorang dari kebutaan, karena itulah yang paling penting. Banyak orang tidak mempunyai masalah dengan mata jasmaninya, mereka celik, tidak buta, tetapi banyak sekali orang yang masih “buta rohani”.  Kebutaan mata jasmani hanya mengakibatkan orang itu mengalami kesulitan untuk berjalan di dunia, akan tetapi, orang yang mata rohaninya buta, akan mengakibatkan orang itu terjerumus dan masuk ke dalam kebinasaan kekal.

Itulah sebabnya, Yesus membiarkan kedua orang buta itu “berjuang” untuk mengikuti-Nya dan tidak serta-merta langsung menyembuhkan mereka. Yesus menunggu sampai kedua orang buta itu bisa mendeklarasikan pernyataan imannya, karena Ia rindu kedua orang buta itu bukan hanya sekedar bisa melihat, namun juga bisa diselamatkan jiwanya.
Orang-orang pada waktu itu mengerti bahwa hanya Mesias yang bisa melepaskan orang-orang yang tertawan dan yang bisa mencelikkan mata orang-orang yang buta, seperti yang sudah dinyatakan dan tertulis dalam kitab nubuatan nabi Yesaya (Yes. 61:1- 2). Dan mereka juga mengetahui bahwa Mesias yang mereka nanti-nantikan itu akan datang dari keturunan raja Daud. Ada begitu banyak raja-raja besar yang lahir dari keturunan Daud, namun tidak ada yang sehebat seperti yang dilakukan oleh Yesus. Ketika kedua orang buta mendengar perbuatan-perbuatan ajaib yang dilakukan Yesus dan mengetahui bahwa Yesus berasal dari keturunan Daud, maka mereka langsung menyadari bahwa Dialah Mesias yang dimaksud itu. Mesias yang bukan hanya sanggup mencelikkan mata jasmani mereka, namun juga mampu menyelamatkan jiwa mereka dari kebinasaan kekal. Itulah sebabnya, sepanjang perjalanan mereka mengikuti Yesus, mulut mereka tidak henti-henti menyerukan, “Kasihanilah kami, hai Anak Daud.” (ay. 27).

Umat Tuhan, sebagai warga Kerajaan Sorga, kepada kita telah dipercayakan Amanat Agung oleh Tuhan, yaitu untuk menjadikan semua bangsa menjadi murid Yesus. Masih banyak didapati orang-orang yang mengalami “kebutaan” sehingga mereka tidak mengenal jalan yang dapat membawa mereka kepada keselamatan. Tugas kita adalah menuntun orang-orang tersebut kepada Sang Jalan Kebenaran, yang tidak lain adalah Yesus Kristus, dan bukan kepada yang lainnya.

Tuhan Yesus memberkati!

10 Juni 2012 – Mencelikkan Mata yang Buta (Warga Kerajaan Sorga Bag 2)

| Warta Jemaat | 0 Comments
About The Author
-

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>