Yohanes 13: 35  Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi.

Hari-hari ini di tengah kemajemukan kehidupan bermasyarakat yang ada di bangsa kita, banyak orang tampil merepresentasikan dirinya dengan mengatasnamakan kelompoknya masing-masing. Entahkah ia berasal dari kelompok organisasi tertentu, partai tertentu, baik rohani maupun nonrohani, yang seringkali dapat kita bedakan lewat atribut-atribut yang dikenakannya. Dengan kata lain, atribut yang dikenakan itu membuat mereka dapat dikenali dari kelompok mana mereka berasal.

Bagaimana dengan kita orang-orang percaya, apakah yang harus kita kenakan supaya orang lain mengenal kita sebagai murid-murid Yesus? Apakah kita juga harus mengenakan atribut-atribut tertentu seperti yang dikenakan orang-orang itu, sebagai misal, pakaian atau kalung salib besar yang digantungkan di leher kita? Meskipun tidaklah salah apabila kita mengenakan semuanya itu, namun  firman Tuhan bagi kita di minggu ini, yaitu Yoh. 13: 35, menyatakan bahwa kita dikenal sebagai murid-murid Yesus yaitu apabila kita saling mengasihi satu dengan yang lain.

Kata “saling” di dalam kata “saling mengasihi”, menunjukkan bahwa semua pihak yang disebut sebagai murid Kristuslah yang harus melakukan tindakan kasih itu, bukan hanya salah satu pihak saja. Seringkali di dalam kehidupan orang-orang percaya, pengertian “saling mengasihi” ini diartikan secara tidak seimbang. Yang kuat dan sehat seringkali dituntut untuk mengasihi yang lemah secara sepihak. Sedangkan yang lemah seolah-olah tidak diharuskan untuk mengasihi pihak yang lain, melainkan hanya bertindak sebagai penerima kasih saja. Yesus berpesan kepada para murid, bahwa siapapun murid itu, mereka harus saling mengasihi.

Kasih seperti apa yang dimaksud oleh Yesus agar murid-murid melakukannya?
(1). Sebuah jenis kasih yang berbeda dari sebelumnya

Yoh. 13: 34  Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi.

Sebelum perintah yang baru mengenai kasih ini diberikan, tentu saja didahului oleh adanya perintah lama. Dan perintah lama tentang kasih tersebut adalah “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” Yesus merasa perlu memperbaharui perintah tentang kasih ini, mengingat kasih tersebut hanya disetarakan dengan sejauh mana orang itu mengasihi dirinya sendiri. Memang tetaplah tidak mudah untuk bisa mengasihi sesama manusia seperti mengasihi diri sendiri. Namun ternyata didapati, khususnya hari-hari ini, banyak orang percaya yang tidak perduli dengan dirinya sendiri. Kalau seseorang tidak perduli dengan dirinya sendiri, bagaimana ia dapat mengasihi orang lain?

Oleh sebab itu, Yesus memberikan perintah yang baru mengenai kasih bagi para murid, dan standar kasih yang Ia berikan bukan lagi didasari oleh sejauh mana murid-murid mengasihi dirinya sendiri, melainkan berdasarkan kasih yang dilakukan Yesus terhadap para murid dan umat manusia secara keseluruhan.

(2). Kasih yang penuh dengan pengorbanan

Yoh. 13: 34B … sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi.

Perintah ini bukan sekedar menyuruh para murid untuk bisa mengasihi, tetapi bagaimana mengasihi dengan cara yang khusus, yaitu seperti kasih Kristus kepada manusia. Inilah yang membuat kasih ini berbeda dari kasih yang sebelumnya. Kasih ini berbicara tentang kerelaan untuk berkorban. Ketika Yesus berpesan kepada para murid tentang perintah saling mengasihi ini, Ia berada dalam keadaan dimana tidak lama lagi akan ditangkap, disiksa dan kemudian menyerahkan nyawa-Nya di atas kayu salib demi menebus dosa seluruh umat manusia. Ia sendiri menjadikan diri-Nya sebagai contoh dari sebuah tindakan yang disebut mengasihi. Dan salah satu makna mengasihi dalam pengertian Yesus adalah kerelaan untuk menyerahkan nyawa-Nya demi kepentingan pihak lain. Dengan kata lain, mengasihi sesama adalah berbicara tentang kerelaan untuk berkorban bagi orang lain, entahkah itu pengorbanan berupa tenaga, waktu, dana, bahkan hidup kita bagi keluarga, saudara seiman, maupun bagi orang lain.

(3). Kasih yang dapat dilihat dan dirasakan

Yohanes 13: 35  Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, …

Dengan melakukan jenis kasih seperti ini sebagai implikasi dari perintah-Nya yang baru tersebut, Yesus mendeklarasikan implikasinya kepada para murid, yaitu “Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku.” Artinya, ketika para murid berjanji bahwa mereka akan saling mengasihi, biarlah itu tidak sekedar keluar dari mulut saja, tetapi ada tindakan kasih yang nyata, yang bukan hanya dapat dilihat, tetapi juga dapat dirasakan oleh sesama. Yesus menghendaki kasih yang “visible and observable” (terlihat dan teramati dengan jelas).

Pertanyaan selanjutnya, oleh siapakah kasih itu seharusnya dapat terlihat dan teramati dengan jelas? Ternyata Tuhan menghendaki hal itu dapat dilihat dan diamati bukan hanya oleh saudara seiman di gereja saja, melainkan oleh semua orang, termasuk anggota keluarga di rumah, rekan-rekan di tempat pekerjaan, bahkan oleh semua orang.

Umat Tuhan, mari kita bersama-sama meresponi perintah kasih yang baru ini, yaitu mengasihi sesama bukan saja dengan kadar seperti kita mengasihi diri kita sendiri, tetapi juga seperti kasih Kristus kepada kita yang rela berkorban. Dengan demikian semua orang akan tahu bahwa kita adalah murid-murid Kristus.

Tuhan Yesus memberkati!

10 Agustus 2014 – Dengan Ini Kita Dikenal

| Warta Jemaat | 0 Comments
About The Author
-

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>