Roma 5:3-5  Dan bukan hanya itu saja. Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan (AMP: And endurance develops maturity of character . . .  .)

Salah satu bagian tersulit dari kehidupan kekristenan adalah fakta bahwa menjadi murid-murid Kristus tidak membuat kita kebal terhadap tantangan dan gelombang dalam kehidupan. Bahkan murid-murid Yesus yang tercatat di Alkitab sendiri dalam beberapa kesempatan harus mengalami terjangan angin badai dan gelombang besar dimana kejadian-kejadian tersebut tidak jarang menggoncangkan iman mereka. Apakah kenyataan bahwa masih adanya gelombang yang harus dihadapi murid-murid ini dianggap cukup beralasan untuk menyatakan bahwa Yesus sudah tidak mengasihi mereka lagi? Sebenarnya bukan itu yang menjadi alasannya. Alkitab jelas mengajarkan bahwa Tuhan mengasihi setiap anak-anak-Nya bahkan Ia turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi setiap kita (Rom. 8:28). Tantangan dan gelombang yang Ia ijinkan terjadi sesungguhnya merupakan bagian dari turut bekerjanya Tuhan dalam kehidupan kita untuk mendatangkan kebaikan bagi yang mengasihi-Nya. Ini berarti setiap tantangan dan gelombang yang terjadi memiliki maksud dan tujuan ilahi (divine purpose), entahkah itu terjadi karena memang Tuhan ijinkan atau akibat kebodohan umat Tuhan sendiri.

Tujuan Tuhan adalah agar setiap umat Tuhan terus bertumbuh lebih baik dan semakin lebih baik lagi hingga akhirnya menjadi serupa dengan gambaran diri-Nya (Rom. 8:29). Inilah tujuan dari kekristenan, dan untuk mencapainya, salah satu “bahan adonan” yang digunakan adalah memasukkan tantangan dan gelombang dalam kehidupan umat Tuhan.

Tantangan dan gelombang yang diresponi dengan benar akan membangun suatu karakter ilahi, dan inilah yang membuat kita dapat bermegah dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji (AMP: And endurance develops maturity of character . . .  .) dan karakter menimbulkan pengharapan. Kutipan dari Rom. 5:3-5 inilah yang menjadi pesan Tuhan bagi kita di minggu ini. Tuhan tidak mau kita menjadi bingung dan putus asa di tengah tantangan dan gelombang yang kita hadapi. Tuhan ingin kita tetap dapat melihat jauh ke depan dengan pandangan yang benar, yaitu bahwa ada tujuan ilahi di balik semua yang dialami, yaitu terbentuknya karakter ilahi, sehingga langkah demi langkah dengan tepat dapat diambil seperti yang Ia ingini.

Yusuf adalah salah satu contoh seorang yang mengalami proses perjalanan hidup yang sangat tidak mudah dan panjang. Yusuf bahkan perlu waktu tiga belas tahun hingga akhirnya tantangan yang harus dilaluinya “berbuah manis”. Dari seorang anak remaja yang sangat dikasihi oleh orang tuanya, tiba-tiba mengalami perubahan besar saat saudara-saudaranya berencana untuk membunuhnya dengan memasukkannya ke dalam sebuah sumur kering. Terlepas dari sumur kemudian Yusuf dijual seharga dua puluh syikal perak kepada pedagang Ismael yang membawanya ke Mesir. Di Mesir Yusuf dibeli dan dijadikan budak untuk mengurus rumah tangga oleh seorang kepala pengawal raja Mesir bernama Potifar. Menghindar dari godaan isteri Potifar yang terus membujuknya untuk tidur bersamanya, kemudian Yusuf harus mendekam di dalam penjara bawah tanah akibat fitnahan yang timbul atas penolakannya tersebut. Bulan demi bulan dan tahun demi tahun harus ia lalui dalam ketidakmengertiannya, namun fokus pandangan mata Yusuf tidak pernah sekalipun ia alihkan dari Tuhan.

Satu karakter luar biasa yang Yusuf miliki adalah bahwa ia masih dapat melihat Tuhan bekerja dalam setiap keadaan di sela-sela gelombang besar yang harus dihadapinya. Apakah kita masih dapat melihat sama seperti Yusuf melihat saat menghadapi tantangan dan gelombang kehidupan? Ataukah justru keadaan itu sendiri yang mengendalikan dan menyetir kehidupan kita, sehingga kita berkesimpulan bahwa Tuhan sudah tidak mengasihi kita lagi, bahkan mulai mencari siapa saja yang dapat dipersalahkan atas apa yang sedang menimpa kita.

Minimal ada tiga respon luar biasa yang dimiliki Yusuf yang dapat kita pelajari ketika ia menghadapi semua tantangan dalam perjalanan hidupnya, sebagai bukti dari karakter yang terbentuk dari sebuah proses:
(1). Menyadari bahwa keterlibatan Tuhan telah mengubah sikap hidupnya (God’s involvement transform our attitudes)

Kej. 45:8  Jadi bukanlah kamu yang menyuruh aku ke sini, tetapi Allah; Dialah yang telah menempatkan aku sebagai bapa bagi Firaun dan tuan atas seluruh istananya dan sebagai kuasa atas seluruh tanah Mesir.

Perjalanan panjang penuh tantangan yang dialami Yusuf tidak hanya sekedar menambahkan jumlah usia dalam hidupnya, tetapi juga mengubahkan hatinya, pribadinya dan seluruh sikap hidupnya. Rahasia transformasi kehidupan yang dialami Yusuf terangkum dalam dua kata penting, yaitu “tetapi Allah.” Ini yang dikatakan Yusuf di hadapan seluruh saudara-saudaranya ketika ia sudah diangkat menjadi penguasa atas Mesir, bahwa bukan perbuatan saudara-saudaranya yang membuat Yusuf bisa terdampar sampai di Mesir, namun semua karena perbuatan Tuhan Allahnya yang hidup. Yusuf telah berjalan dan mempercayai Allahnya selama tahun-tahun perjalanan hidupnya, termasuk tiga belas tahun perjalanan yang penuh air mata dan gelombang yang dahsyat, tetapi Yusuf membuktikan bahwa Tuhan tidak pernah gagal untuk selalu berdiri membelanya di dalam setiap keadaan. Bahkan Yusuf berani berkata, bahwa sidik jari Tuhan telah memenuhi sekujur tubuhnya, sebagai bukti bahwa ia senantiasa ada di dalam genggaman Tuhan. Suatu sikap kedewasaan tergambar jelas dalam karakter Yusuf.

Apabila saat ini Saudara berpikir bahwa Saudara merasa sendiri di tengah terjangan gelombang, ingatlah akan dua kata “tetapi Allah”, yang mengingatkan bahwa ada Yesus, Sang Raja di atas segala raja, yang sedang terlibat di dalam setiap inci dari situasi, kejadian, dan keadaan yang sedang kita hadapi. Dan cara pandang inilah yang akan mengubahkan banyak hal.

(2). Pengalaman melihat tangan Tuhan mengubahkan tindakannya (Seeing God’s hand revolutionizes our responses)

Kej. 45:5  Tetapi sekarang, janganlah bersusah hati dan janganlah menyesali diri, karena kamu menjual aku ke sini, sebab untuk memelihara kehidupanlah Allah menyuruh aku mendahului kamu.

Pengalaman melihat bagaimana rancangan Tuhan yang luar biasa atas keturunan Yakub yang kelak akan menjadi suatu bangsa yang besar di kemudian hari, sehingga “disuruh”-Nya Yusuf untuk mendahului mereka semua, telah mengubahkan pribadi Yusuf. Bukan hanya telah mengubahkan cara berpikirnya atau karakternya saja, tetapi juga cara Yusuf bertindak.

Sangat mudah bagi Yusuf untuk membalas kejahatan saudara-saudaranya yang dulu telah begitu menyakitinya, bahkan ia bisa saja mengikat saudara-saudaranya satu persatu di atas tiang gantungan. Namun pengalamannya bersama Tuhan telah mengubahkan seluruh hidupnya. Ia menyadari bahwa ada rencana Tuhan yang lebih bernilai yang harus ia pikirkan dan selesaikan, dibanding menghabiskan energi memikirkan bagaimana membalas dendam kepada orang-orang yang telah menyakitinya.

(3). Mengenal hati Tuhan telah membuatnya menjadi seorang yang bermurah hati dan bukan pendendam (Knowing God’s heart makes us gracious instead of vengeful)

Kej. 45:11  Di sanalah aku memelihara engkau — sebab kelaparan ini masih ada lima tahun lagi — supaya engkau jangan jatuh miskin bersama seisi rumahmu dan semua orang yang ikut serta dengan engkau.

Yusuf menyadari bahwa peninggian yang ia alami sebagai seorang penguasa di Mesir bukan semata-mata pemberian Firaun, namun sebagai kasih karunia Tuhan bagi dia dan keluarganya. Orang-orang yang terlibat mulai dari sejak ia dibuang ke dalam sumur sampai mendekam di penjara, hingga saat peninggiannya sebagai seorang perdana menteri sesungguhnya adalah “alat-alat” yang Tuhan gunakan untuk menempa kehidupannya dan membentuk karakternya, sehingga ia dapat menjadi pribadi yang siap dipakai Tuhan. Itulah sebabnya, tidak ada sedikitpun dendam kepada saudara-saudaranya maupun kepada orang-orang yang telah terlibat baik secara langsung maupun tidak langsung dalam memahitkan kehidupannya. Yang ada dalam hati Yusuf adalah bagaimana menyalurkan kasih karunia Tuhan yang telah ia nikmati dan membagikannya kembali kepada seluruh keluarga besarnya.

Mari umat Tuhan, apapun tantangan atau gelombang yang sedang kita alami saat ini, pandanglah segala sesuatu yang dihadapi dengan cara pandang ilahi (divine perspective), sebagaimana yang telah Yusuf lakukan. Dan terbukti, Yusuf bukan hanya melewati semua itu dengan berkemenangan saja, namun ada karakter ilahi yang terbentuk di dalam dirinya, dan itu tidak bisa dinilai oleh apapun juga. Karakter yang terbentuk membuat Yusuf selanjutnya siap pakai Tuhan sebagai alat untuk meninggikan nama-Nya melalui berbagai posisi yang dipercayakan kepadanya.

Tuhan Yesus memberkati!

09 Juni 2013 – Gelombang Menghasilkan Karakter (Berjalan Mengatasi Gelombang Bag. 2)

| Warta Jemaat | 0 Comments
About The Author
-

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>