09 Juli 2017 – Kejar Dan Dapatkan Permata-Permata Itu

Amsal 3:13-15 (13) Berbahagialah orang yang mendapat hikmat, orang yang memperoleh kepandaian, (14) karena keuntungannya melebihi keuntungan perak, dan hasilnya melebihi emas. (15) Ia lebih berharga dari pada permata; apa pun yang kauinginkan, tidak dapat menyamainya.

 

Salomo, penulis kitab Amsal, mendorong kita untuk bertekun dalam mencari sesuatu yang jauh lebih berharga dari benda apa pun, yaitu hikmat. Di pasal sebelumnya Salomo menceritakan tentang bagaimana Daud ayahnya mendorong dirinya untuk melakukan apa pun demi mendapatkan pengetahuan dan hikmat. Pencarian hikmat yang tak mudah ini sebenarnya merupakan pencarian akan Allah sendiri. Sebenarnya, kebahagiaan batin muncul saat manusia mendapatkan hikmat itu (3:13). Seorang ayah mengarahkan anaknya untuk terus bertekun dalam mencari permata langka ini karena hikmat tak akan ditemukan orang yang mencari dengan cara biasa-biasa saja. Hikmat ditemukan dan dinikmati hanya oleh mereka yang bertekun, bersungguh-sungguh, dan berketetapan mencarinya.

Mengapa pengejaran akan hal-hal yang bernilai dari Tuhan itu selalu digambarkan di Alkitab dengan menggunakan istilah “batu permata”? Orang Israel sejak dari zaman dahulu kala sudah sangat menghargai dengan yang namanya batu-batu berharga, mungkin sama seperti sebagian besar dari kita di zaman sekarang ini. Alkitab sering menghubungkan batu-batu berharga dengan arsitektur Bait Suci (2 Taw. 3:6; 9:10), dan rasul Yohanes melihat Yerusalem Surgawi “dihiasi” dengan bermacam-macam batu permata (Wah. 21:19). Permata dapat berupa batu berharga atau semi-berharga yang dipotong dan diasah, atau hiasan dari logam mulia (terutama emas atau perak) yang ditatahi batu-batu tersebut.

Sejak masa awal dalam Alkitab, pria dan wanita telah mengenakan permata sebagai perhiasan. Dewasa ini, yang dianggap batu berharga hanyalah intan, zamrud, mirah, dan safir, sedangkan batu-batu langka dan indah lainnya sering dianggap semi-berharga. Namun, istilah Ibrani yang diterjemahkan “batu berharga” memiliki penerapan yang lebih luas. Batu-batu berharga ini dianggap berbeda dari batu-batu mineral lain terutama karena batu-batu ini langka, indah, dan tahan lama.

Bagi masyarakat Yahudi salah satu tolok ukur kekayaan seseorang diukur berdasarkan kepemilikan batu-batu berharga; raja-raja seperti Salomo dan Hizkia tampaknya tercatat memiliki sejumlah besar batu-batu berharga. Batu-batu berharga juga digunakan sebagai hadiah bagi kalangan tertentu. Ada juga bangsa-bangsa yang menggunakannya sebagai komoditas dalam berdagang. Dalam arti kata lain, batu-batu berharga tersebut digunakan khusus untuk perkara-perkara yang memiliki nilai atau kepentingan yang tinggi. Batu-batu tersebut tidak digunakan untuk hal-hal yang biasa dan umum.

Inilah yang menjadi pesan Tuhan bagi kita di minggu ini. Seperti seorang bapa yang sedang mendandani anak-anaknya, demikianlah juga Tuhan sedang “mendandani” kita saat ini. Kalau kita perhatikan pesan-pesan-Nya sejak beberapa minggu terakhir ini, Tuhan mau kita hidup dalam kepenuhan Roh Kudus-Nya (mengalami Pentakosta setiap waktu), menyiapkan wadah dengan kapasitas besar untuk diisi hal-hal yang besar, dan mendengar suara-Nya. Kali ini Tuhan mau kita mengejar dan memeroleh “permata-permata yang berharga” untuk dikenakan kepada kita. Sebagai anak-anak Kerajaan sorga, adalah penting sekali untuk “mengenakan” perkara-perkara Ilahi yang sudah Tuhan sediakan tersebut.

Apa saja yang termasuk dengan “mengenakan permata-permata” itu? Beberapa di antaranya adalah:

(1). Hidup dalam tujuan Tuhan

1 Pet. 1:18-19 (18) Sebab kamu tahu, bahwa kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia yang kamu warisi dari nenek moyangmu itu bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas, (19) melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus yang sama seperti darah anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat.

Harta termahal dan terindah yang setiap kita orang percaya miliki adalah anugerah keselamatan dari Kristus. Keselamatan adalah sesuatu yang sangat berharga yang tidak bisa dibeli oleh apapun juga. Bahkan orang terkaya di dunia sekalipun tidak akan dapat membeli sebuah keselamatan. Seberapa berharganya kita saat ini? Meskipun seringkali kita dianggap rendah oleh mereka yang belum percaya, namun di mata Tuhan, sebagai orang-orang yang telah ditebus, kita mempunyai nilai yang sangat tinggi. Ayat di atas menggambarkan bahwa kita semua begitu berharga di mata-Nya. Kita bukan ditebus dengan barang fana, harta kekayaan atau benda-benda yang sifatnya sementara, tapi oleh darah Kristus, yang tak bernoda dan bercacat. Bukankah ini sesuatu yang luar biasa? Dia mengorbankan diri-Nya hanya untuk menyelamatkan kita dan merancang masa depan kita menjadi penuh harapan.

Sebagai umat yang telah ditebus, Tuhan mau sejak saat itu kita menjalani hidup yang berbeda dengan kehidupan lama kita yang sia-sia. Tuhan mau kita hidup selaras dengan kehendak-Nya. Mengisi keselamatan dengan menjalani hidup tanpa mengerti rencana Tuhan adalah sama dengan menganggap murah pengorbanan Yesus di atas kayu salib.

(2). Hidup dalam hikmat Tuhan

Ams. 8:11 Karena hikmat lebih berharga dari pada permata, apa pun yang diinginkan orang, tidak dapat menyamainya.

Bila digunakan secara tepat, harta bisa menjadi sangat bermanfaat. Akan tetapi, bila digunakan secara salah, harta bisa menjadi sumber masalah. Hikmat akan membuat kita bisa membuat keputusan yang tepat dalam menjalani hidup, termasuk dalam menggunakan harta. Mencari hikmat harus lebih diutamakan daripada mencari uang. Bila kita terbuka untuk menerima hikmat yang berasal dari Allah, kita akan tertolong saat menghadapi godaan, dan kurangnya pengalaman tidak akan membuat kita terjerat oleh tawaran yang menyesatkan.

Hikmat akan membuat kita hidup dalam takut akan Tuhan. Walaupun kita tidak bisa melihat Tuhan dengan mata jasmani, hikmat membuat kita bisa melihat bahwa Tuhan sedang mengawasi kita sehingga kita bisa terhindar dari perbuatan yang salah yang dilakukan orang di tempat yang gelap. Hikmat Tuhan akan membuat kita membenci kejahatan dan semua hal yang tidak berkenan di hadapan Tuhan. 

Para orang tua perlu menyadari bahwa warisan paling berharga yang bisa mereka wariskan kepada anak-anak mereka adalah takut akan Tuhan, karena hikmat timbul dari pribadi yang takut akan Tuhan. Bagi seorang anak, hikmat Tuhan itu bisa diperoleh pertama-tama dengan mendengar nasihat orang tua. Bila kita telah terbiasa memperhatikan dan menghargai ajaran orang tua, akan lebih mudah bagi kita untuk memperhatikan dan menghargai hikmat yang berasal dari Tuhan.

Mari jemaat Tuhan, masih ada begitu banyak permata-permata lainnya yang perlu kita “kenakan.” Tuhan sedang memerlengkapi kita sebagai duta-duta-Nya, sehingga dimana pun kita berada kita dapat benar-benar tampil sebagai representasi dari Kerajaan Sorga yang menjadi jawaban bagi banyak orang.

Tuhan Yesus memberkati!

ReplyReply AllForwardEdit as new

09 Juli 2017 – Kejar Dan Dapatkan Permata-Permata Itu

| Warta Jemaat | 0 Comments
About The Author
-

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>