Kejadian 28:12  Maka bermimpilah ia, di bumi ada didirikan sebuah tangga yang ujungnya sampai di langit, dan tampaklah malaikat-malaikat Allah turun naik di tangga itu.

Setelah peristiwa Yakub memberi makanan kepada Ishak, ayahnya, yang membuat akhirnya Yakublah yang diberkati oleh sang ayah, dendamlah hati Esau kepada Yakub sehingga berencana ingin membunuh adiknya tersebut. Kemarahan Esau membuat Ishak memanggil Yakub dan menyuruhnya pergi ke Padan Aram, tempat di mana Laban, saudara ibunya, berada untuk menetap sementara waktu lamanya di sana. Ketika matahari telah terbenam sampailah Yakub di sebuah tempat bernama Lus dan ia bermalam di sana. Ia mengambil sebuah batu yang terletak di tempat itu dan dipakainya batu tersebut sebagai alas bagi kepalanya, lalu ia membaringkan dirinya di tempat itu. Ketika Yakub tertidur, maka bermimpilah ia, di bumi ada didirikan sebuah tangga yang ujungnya sampai di langit, dan tampaklah malaikat-malaikat Allah turun naik di tangga itu.

Alkitab mencatat bahwa bahwa mimpi yang dialami Yakub adalah salah satu mimpi yang paling menakjubkan yang pernah dialami oleh seseorang, karena mimpi yang dialami Yakub telah membuat sejarah baru. Mimpi itu bukan hanya mengubahkan hidupnya secara pribadi saja, namun juga telah meletakkan suatu fondasi yang kuat bagi generasi penyembah di masa yang akan datang.

Dari sejak jaman dahulu, telah dipahami bahwa dunia mimpi adalah salah satu sarana yang dapat digunakan Tuhan sebagai pintu untuk membuka saluran komunikasi antara dunia nyata dengan dunia spiritual. Memang betul, tidak semua mimpi dapat dikategorikan sebagai pintu Tuhan untuk berkomunikasi dengan umat-Nya, namun Tuhan dapat menggunakan mimpi sebagai sarana komunikasi antara diri-Nya dengan siapa Ia ingin menyatakannya. Artinya, melalui pesan ini, Tuhan ingin menyatakan bahwa komunikasi antara kita dengan Tuhan jangan hanya terbatas pada dunia nyata yang hanya dapat dicerna dan dipahami oleh akal pikiran manusia saja, namun ada dunia spiritual yang jauh lebih luas dan tidak terbatas yang dapat dijangkau lewat suatu hubungan yang dijalin lebih akrab lagi dengan Tuhan, di mana pintu gerbang maupun tangga untuk mencapainya telah Tuhan sediakan.  Dan jalinan hubungan yang seperti ini bukanlah semata-mata diperuntukkan bagi orang-orang tertentu saja, melainkan juga bagi setiap orang percaya yang merindukannya. Suatu jalinan hubungan yang digunakan Tuhan untuk menyatakan lebih banyak hal lagi kepada umat-Nya.

Beberapa hal yang dialami Yakub merupakan suatu gambaran yang dapat kita pelajari maknanya, antara lain:
(1). Mengambil keputusan untuk berhenti

Kej. 28:11  Ia sampai di suatu tempat, dan bermalam di situ, karena matahari telah terbenam. Ia mengambil sebuah batu yang terletak di tempat itu dan dipakainya sebagai alas kepala, lalu membaringkan dirinya di tempat itu.

Jauhnya perjalanan dari Bersheba menuju Haran tidak dapat ditempuh sekaligus dengan sekali perjalanan. Dibutuhkan waktu yang cukup panjang dan beberapa tempat perhentian bagi Yakub untuk bermalam dan melepas lelah. Pada waktu itu terjadi Yakub sendiri tidak mengetahui bahwa tempat di mana ia telah mengambil sebuah batu dan menjadikannya sebagai alas kepala tersebut, suatu hari kelak akan menjadi tempat dibangunnya sebuah tugu peringatan bagi Allah olehnya yang terbuat dari tumpukan batu-batu, dan selanjutnya tempat tersebut akan dinamakan Bethel, yang artinya Bait Allah.

Makna dari semua itu adalah, panjangnya perjalanan yang harus kita tempuh dalam kehidupan tidak dapat dicapai dalam sekali perjalanan saja, selalu dibutuhkan tempat-tempat perhentian untuk melepas lelah dan untuk menyelaraskan kembali arah perjalanan kita. Barangkali selama ini arah perjalanan kita telah tegeser oleh berbagai prioritas lain dalam kehidupan kita, dan itulah sebabnya jarum kompas penunjuk arahnya perlu dikaliberasi ulang, diselaraskan kembali supaya kita tahu arah yang seharusnya. Dan tempat penyelarasan tersebut bernama Bethel. Bethel berbicara tentang kehidupan doa yang harus terus menerus dibangun senantiasa di sepanjang perjalanan kehidupan kita. Seperti halnya sebuah jalan raya pada umumnya, di setiap satu kilometer selalu terdapat batu penunjuk jarak atau yang biasa disebut dengan milestone. Artinya untuk setiap “satu kilometer” perjalanan, selalu sempatkan diri untuk berhenti di milestone yang bernama “Bethel.”

(2). Tempat perhentian yang menghasilkan perjumpaan

Kej. 28:12  Maka bermimpilah ia, di bumi ada didirikan sebuah tangga yang ujungnya sampai di langit, dan tampaklah malaikat-malaikat Allah turun naik di tangga itu.

Yakub sama sekali tidak menyangka bahwa di tempat di mana ia mengambil sebuah batu dan menjadikannya sebagai alas kepala, lalu membaringkan tubuhnya itu menjadi tempat di mana ia akan mengalami suatu mimpi yang sangat menakjubkan, dan apa yang dialaminya itu bukanlah sekedar bunga tidur, melainkan sebuah peristiwa supranatural, sebuah perjumpaan pribadi antara dirinya dengan Tuhan, dimana ia diperlihatkan sebuah tangga di bumi yang terhubung dengan sorga dan ada malaikat sorgawi turun naik di antaranya.

Peristiwa ini menggambarkan bahwa setiap hubungan yang dibangun dengan benar, dengan menjadikan Yesus sebagai “alas batu” tempat membaringkan kepala kita, seharusnya menghasilkan suatu perjumpaan pribadi yang luar biasa bersama-Nya. Yakub saja sampai-sampai berkata bahwa alangkah dahsyatnya tempat tersebut. Ini tidak lain dari rumah Allah, ini pintu gerbang sorga!

Tepat tanggal 4 September 2013 kemarin kita baru saja memasuki pergantian penanggalan Ibrani Tahun Ayin Dalet 5774. Ayin memiliki makna mata Tuhan, sedangkan Dalet memiliki makna miskin, pintu, gerbang, atau halaman. Tahun yang kita masuki ini dimaknai sebagai tahun dimana mata Tuhan sedang tertuju kepada umat-Nya yang memiliki hati yang miskin di hadapan-Nya, dan pintu gerbang yang tadinya tertutup akan menjadi terbuka dan masuk dalam halaman kehidupan yang baru, tetapi dengan keputusan untuk tetap tertuju dan terhubung kepada Tuhan.

(3). Perjumpaan yang mengubahkan hidup

Kej. 28:15  Sesungguhnya Aku menyertai engkau dan Aku akan melindungi engkau, ke mana pun engkau pergi, dan Aku akan membawa engkau kembali ke negeri ini, sebab Aku tidak akan meninggalkan engkau, melainkan tetap melakukan apa yang Kujanjikan kepadamu.”

Peristiwa perjumpaan yang dialami oleh Yakub menjadikan hidup Yakub tidak pernah sama lagi. Tujuan perjalanan Yakub semula adalah melarikan diri dari Esau kakaknya yang berencana untuk membunuhnya, namun peristiwa perjumpaannya dengan Tuhan, menjadikan dia tidak pernah merasa sendirian lagi. Ada Tuhan yang berjanji untuk menyertai dan melindungi ke manapun Yakub pergi. Sebaliknya, Yakub pun meresponi janji Allah dengan mengikat komitmen untuk taat dan sejak saat itu ia juga menjadikan Tuhan sebagai Allah pribadinya. Sebelum peristiwa itu, Yakub hanya sekedar mengenal Allah sebagai Allah Abraham dan Allah Ishak saja. Dan setelah peristiwa itu hidup Yakub mengalami banyak pembelaan dari Tuhan.

Umat Tuhan, hari-hari ini Tuhan terus mengajak kita umat-Nya untuk lebih lagi mendekat dan menjalin hubungan yang lebih karib lagi. Ada pintu gerbang yang siap Ia bukakan, ada halaman-halaman baru yang mau Ia bukakan, asal saja kita mau datang meluangkan waktu dengan segala kerendahan hati untuk membukanya sendiri di hadirat-Nya. Yakub tidak pernah mengalami hidup yang demikian bergairah dan berharga sebelum ia mengalami perjumpaan pribadi dengan Tuhan di Bethel. Bagaimana dengan kita?

Tuhan Yesus memberkati!

08 September 2013 – “Terkoneksi Dengan Tuhan” (Bag. 2)

| Warta Jemaat | 0 Comments
About The Author
-

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>