Yeremia 23:1-6  (6) Dalam zamannya Yehuda akan dibebaskan, dan Israel akan hidup dengan tenteram; dan inilah namanya yang diberikan orang kepadanya: TUHAN-keadilan kita (= Jehova Tsidkenu: NKJV. The Lord our Righteousness (Tuhan adalah Kebenaran kita)

Yeremia hidup pada masa itu dan salah satu tugasnya adalah memanggil raja-raja dan rakyat Yehuda untuk bertobat serta kembali hidup dalam kebenaran. Raja-raja yang seharusnya memerintah, menggembalakan rakyat Yehuda, melindunginya, memelihara serta memimpin domba-domba gembalaannya di jalan yang benar, ternyata didapati tidak melakukan tugas-tugas tersebut dengan baik. Padahal sebenarnya mereka memiliki otoritas untuk bisa melakukannya (ay. 1), namun mereka tidak mampu menuntun rakyat hidup dalam kebenaran.

Tidak semua raja-raja Yehuda hidup dalam kebenaran. Banyak dari antara mereka hidupnya kacau balau, bahkan memimpin rakyatnya jatuh ke dalam dosa penyembahan berhala. Mereka dipercayakan domba-domba oleh Tuhan, tetapi mereka tidak menuntunnya sebagaimana harusnya. Bukannya menjaga dan mendorong rakyat hidup dalam kebenaran, tetapi malah membawanya ke dalam penyesatan, mencerai-beraikannya, bahkan menghancurkannya (Ay. 2).

Zedekia, raja Yehuda yang memerintah di zaman Yeremia hidup, merupakan salah seorang raja yang hidup dalam kejahatan. Ayat-ayat di dalam perikop Yeremia 23 di atas sesungguhnya ditujukan kepada raja Zedekia tersebut. Nama Zedekia yang dalam bahasa aslinya memiliki arti yang luar biasa, yaitu “Tuhan adalah kebenaranku”, ternyata justru hidup dalam kondisi yang sangat bertolak belakang dengan arti namanya tersebut. Dia memimpin umat Tuhan ke dalam dosa yang jauh daripada kebenaran yang dapat ditemukan di dalam Tuhan.

Tetapi semua kenyataan di atas barulah sebuah permulaan saja. Akan datang suatu masa di mana Allah akan membangkitkan seorang Raja yang luar biasa, yang kelak menjadi seorang Gembala yang luar biasa pula (Ay. 5- 6). Raja tersebut bukan hanya akan menunjukkan jalan untuk hidup dalam kebenaran, namun juga akan membenarkan hidup setiap manusia yang percaya kepada-Nya, karena Dialah Yesus kebenaran kita (Jehova Tsidkenu).

Inilah yang menjadi pesan Tuhan bagi kita di minggu ini. Yesus yang sudah membenarkan setiap kita, menghendaki kita sungguh-sungguh menjadikan Dia sebagai kebenaran kita, dengan menjadikan Dia sebagai dasar untuk berpijak, sumber tempat kita senantiasa terhubung, dan penuntun tindakan kita. Tanpa disadari seringkali banyak orang percaya bergerak atas dasar inisiatif dirinya sendiri, bertindak semata-mata atas apa yang dia pikir baik. Tetapi Tuhan berkata bahwa Ialah kebenaran kita. Maka jadikanlah Ia sebagai fondasi kita berdiri. Jadikanlah Tuhan sebagai mistar pengukur, karena salah satu arti kata Tsidkenu adalah “garis yg sangat lurus”. Tuhan mau kita menjadikan diri-Nya sebagai standar kebenaran kita.

Beberapa hal yang ditekankan berkaitan pesan Tuhan ini adalah:

(1). Miliki pengalaman bersama Tuhan

Dalam Alkitab kita banyak menemukan nama-nama lain dari Tuhan, seperti: Jehova Jireh, Jehova Rafa, Jehova Nissi, Jehova Shalom, Jehova Rohi, dan lain-lain. Masing-masing nama memiliki makna yang luar biasa tentang apa yang dilakukan Tuhan kita.

Kalau kita perhatikan, setiap nama atau julukan yang luar biasa tentang Tuhan, didapat terlebih dahulu oleh para tokoh-tokoh di Alkitab lewat sebuah pengalaman pribadi bersama Tuhan. Pengalaman bersama Tuhan selalu menghasilkan pengenalan yang lebih lagi tentang Tuhan. Musa, sebagai misal. Ia tidak akan pernah mengenal Allahnya, sebagai Allah Panji Kemenangan (Jehova Nissi), sebelum ia mengalami sendiri penghadangan oleh bangsa Amalek di tengah perjalanannya membawa bangsa Israel keluar dari perbudakan Mesir. Diperintahkannyalah Yosua untuk berperang, dan ia sendiri naik ke atas bukit untuk berdoa kepada Tuhan sambil mengangkat tangannya sampai Israel mengalami kemenangan yang luar biasa.

(2). Tentukan siapa yang menjadi raja dalam hidup kita

Yeremia menegur bangsa Israel yang mudah berubah sikap dan perilaku imannya, karena hal itu  tergantung siapa raja yang memerintah di Yehuda saat itu. Kalau yang memerintah adalah raja yang takut akan Tuhan, maka seluruh bangsa menjadi takut akan Tuhan. Namun apabila raja yang memerintah atas Yehuda adalah seorang penyembah berhala, mereka seketika juga berubahlah sebagian besar rakyat menjadi para penyembah berhala.

Tuhan mau setiap kita, umat-Nya, sungguh-sungguh menjadikan Tuhan Yesus sebagai Raja dalam setiap pribadi kita, sehingga apapun perubahan yang terjadi di kepemimpinan bangsa kita, atau dengan siapapun kita bergaul, itu tidak akan mempengaruhi iman setiap kita sebagai orang percaya.

(3). Lakukan kegerakan seperti yang sedang Tuhan lakukan

Kalau memang betul Tuhan adalah kebenaran kita, maka ke manapun Tuhan berada maka di situpun kita berada. Apapun yang Ia lakukan, maka kitapun melakukan hal yang sama. Ketika kita mengetahui hati Yesus tergerak oleh belas kasihan dan melakukan suatu tindakan ketika Ia melihat jiwa-jiwa yang sakit serta tercerai berai bagaikan domba-domba yang tidak memiliki gembala, maka kitapun turut melakukan hal yang sama seperti yang Ia lakukan.

Oleh sebab itu, ketika di tahun ini Tuhan perintahkan kita untuk bergerak memberitakan Injil damai sejahtera, maka kitapun sepatutnya turut melakukan hal yang sama, karena Yesus adalah kebenaran kita. Dia adalah Jehova Tsidkenu.

Mari umat Tuhan, sesungguhnya tidak ada siapapun lagi yang dapat dijadikan sebagai kebenaran kita, selain Yesus Sang Kebenaran itu sendiri. Oleh sebab itu, jadikanlah Ia sebagai Raja senantiasa di dalam hidup kita, sehingga di manapun kita berdiri, kita menjadikan Dia sebagai dasar, terhubung dengan Dia, dan bergerak di dalam kegerakan-Nya, bukan di dalam kegerakan kita.

Tuhan Yesus memberkati!

 

08 Februari 2015 – Jehova Tsidkenu (Tuhan Adalah Kebenaranku)

| Warta Jemaat | 0 Comments
About The Author
-

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>