Kis. 28: 2 Penduduk pulau itu sangat ramah terhadap kami. Mereka menyalakan api besar dan mengajak kami semua ke situ karena telah mulai hujan dan hawanya dingin.

Setelah kapal yang membawa Paulus dan orang-orang yang bersama-sama dengan dia terdampar di sebuah pulau, yang diketahui kemudian bahwa pulau itu bernama pulau Malta, maka ditengah cuaca hujan dan udara yang dingin mereka mulai menyalakan api besar dan mengajak semua orang yang ada di sana untuk berdiang agar tubuh mereka menjadi hangat. Keramahan penduduk pulau Malta ternyata tidak cukup untuk menghangatkan tubuh seluruh penumpang kapal yang sedang kedinginan itu, diperlukan api besar yang berkobar di tengah-tengah mereka untuk bisa menghangatkan tubuh semua orang yang ada di situ.

Inilah yang menjadi pesan Tuhan bagi kita, yaitu agar setiap kita dapat tampil sebagai orang-orang mampu untuk mengobarkan api Tuhan, sehingga siapa pun orang-orang yang bersama-sama dengan kita (pasangan hidup, anggota keluarga, teman, komunitas, dll.) akan ikut merasakan hangatnya kobaran api Tuhan yang ada pada kita dan mereka pun ikut bernyala-nyala bagi Tuhan. Kita masih ingat pesan Tuhan minggu lalu, bahwa setiap kita harus senantiasa penuh dengan minyak sorgawi, yaitu kepenuhan Roh Allah, itulah yang menjadi “bahan bakar” nya. Kita baru mengerti, bahwa salah satu tujuan kepenuhan itu adalah untuk mengimpartasikan kobaran api Roh Kudus.

Hari-hari ini kita merasakan “kedinginan” dan kekelaman yang mencoba menutupi dan menguasai bumi, khususnya juga melanda bangsa kita. Api dari sebuah lilin yang kecil tidak cukup untuk menghangatkan tubuh apalagi menghangatkan komunitas bahkan bangsa dimana kita berada. Diperlukan kobaran api besar yang bersumber pada minyak sorgawi yang senantiasa penuh di dalam setiap kita, gereja Tuhan.

Tuhan sebenarnya sedang berbicara tentang makna sebuah pengaruh. Pada hakekatnya, setiap orang memiliki kemampuan untuk memberikan pengaruh kepada siapa pun juga dengan cara apapun juga. Tetapi untuk dapat memberikan pengaruh ilahi, diperlukan seseorang yang mau:

(1) Menangkap rencana Tuhan dan berjalan di dalamnya dengan kepenuhan-Nya.

Kis. 28: 6 Namun mereka menyangka, bahwa ia akan bengkak atau akan mati rebah seketika itu juga. Tetapi sesudah lama menanti-nanti, mereka melihat, bahwa tidak ada apa-apa yang terjadi padanya, maka sebaliknya mereka berpendapat, bahwa ia seorang dewa.

Ketika rasul Paulus bersama dengan orang banyak sedang berdiang di depan api yang ada di tengah-tengah mereka, tiba-tiba keluarlah seekor ular beludak dari tengah-tengah kayu dan menggigit tangannya. Orang-orang di sana menyangka bahwa inilah akhir hidup dari seorang rasul Paulus, yang setelah terluput dari hantaman badai di tengah laut, maka akhirnya bisa ular beludak yang sangat beracunlah yang dapat membinasakannya. Namun ternyata rasul Paulus sama sekali tidak merasakan pengaruh apapun dari gigitan ular tersebut, bahkan selama keberadaannya di pulau Malta, ia sungguh menjadi saluran berkat dan kuasa Tuhan, dimana orang-orang sakit dari berbagai kalangan datang dan disembuhkannya, bahkan penduduk setempat menyangka bahwa rasul Paulus adalah dewa.

Apa yang membuat pulau tersebut dilawat Tuhan lewat keberadaan rasul Paulus? Jawabannya adalah karena dari sejak awal hingga akhir tugas pelayanannya ia senantiasa ada di dalam rencana Tuhan dan berjalan dalam tuntunan-Nya. Keberadaan rasul Paulus di pulau Malta merupakan tempat persinggahan sementara sebelum ia bertolak selanjutnya menuju Roma, seperti yang sudah Tuhan katakan terlebih dahulu melalui malaikat-Nya. Seseorang yang berjalan dalam rencana Tuhan tidak dapat dihentikan begitu saja hanya karena ada gelombang laut yang mencoba mengkandaskan perjalanannya, ataupun karena ada gigitan ular berbisa yang mencoba membinasakannya, karena Roh Allah yang dahsyat ada di dalam dirinya dan yang akan terus memampukannya.

(2). Memikul salib Kristus

Mar.15: 21 Pada waktu itu lewat seorang yang bernama Simon, orang Kirene, ayah Aleksander dan Rufus, yang baru datang dari luar kota, dan orang itu mereka paksa untuk memikul salib Yesus.

Dalam pandangan banyak orang saat itu, Yesus adalah sosok penjahat kelas kakap yang sedang digiring menuju tempat eksekusi. Karena itu, mencoba membantu Yesus memikul salib akan dianggap sebagai tindakan yang hina dan memalukan. Simon dari Kirene memang dipaksa untuk melakukan tugas memikul salib Yesus. Namun ternyata hari itu merupakan hari yang paling mulia di dalam kehidupan Simon. Memang Simon menanggung derita dan cemooh ketika ia sedang memikul salib Yesus, namun sejak saat itu hidup Simon dan keturunannya diubahkan Tuhan secara luar biasa.

Ketika kita mau berjalan bersama Yesus dan memikul salib-Nya, kita mungkin juga akan menerima cemooh yang sama dari dunia, karena kita dianggap memiliki hubungan yang dekat dengan Sang Juruselamat. Namun melalui semuanya itu, hidup kita akan diubahkan dan kesaksian kita akan menimbulkan dampak pada kehidupan keluarga serta teman-teman yang berada di sekitar kita. Memikul salib Yesus menuntut harga yang sangat mahal, tetapi masih tidak semahal jika tidak memikulnya.

(3). Tinggal dalam komunitas yang membangun rohani

2 Tim. 1: 6 Karena itulah kuperingatkan engkau untuk mengobarkan karunia Allah yang ada padamu oleh penumpangan tanganku atasmu.

Seperti yang diperintahkan rasul Paulus kepada Timotius, yaitu untuk selalu mengobarkan karunia Allah yang dimiliki Timotius di dalam dirinya kepada siapa pun dan dimana pun ia berada, maka tugas itu dilakukan Timotius dengan penuh tanggung jawab sehingga kemana pun ia berada, selalu ada orang-orang yang “terbakar” dan terbangun imannya.

Apa yang membuat Timotius selalu dapat mengobarkan karunia Allah di dalam kehidupannya? Hal itu tentunya tidak terjadi begitu saja dalam waktu semalam, sesungguhnya hal itu sudah dipupuknya sejak ia masih tinggal bersama ibu dan neneknya dari sejak kecil (2 Tim. 1: 5). Meskipun Timotius tinggal di tengah-tengah keluarga yang tidak memiliki peran keimaman seorang ayah, namun karena ia tinggal bersama dengan seorang ibu dan nenek yang memiliki kobaran iman yang dahsyat di dalam Kristus dan yang selalu mengimpartasikannya lewat pengajaran dan praktek kehidupan, maka dari situlah kehidupan rohani Timotius dibangun secara luar biasa, belum lagi ia memiliki rasul Paulus sebagai bapa rohaninya yang terus memberikan keteladanan Kristus. Hal-hal itulah yang membentuk jati diri seorang Timotius.

Mari umat Tuhan, ketika kekelaman menutupi bangsa-bangsa, diperlukan api lawatan Tuhan untuk menerangi negeri ini, dan biarlah itu dimulai dari kita, gereja-Nya, yang mau bangkit dan menjadi terang dan yang mau mengobarkan api Tuhan kepada orang-orang di sekeliling kita, dimulai dari komunitas terkecil lebih dahulu, yaitu keluarga dan gereja.

Tuhan Yesus memberkati!

08 April 2012 – Pribadi yang Mengobarkan (Dipilih menjadi pemimpin bag.ke-10)

| Warta Jemaat | 0 Comments
About The Author
-

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>