Kisah Para Rasul 13:22  Setelah Saul disingkirkan, Allah mengangkat Daud menjadi raja mereka. Tentang Daud Allah telah menyatakan: Aku telah mendapat Daud bin Isai, seorang yang berkenan di hati-Ku dan yang melakukan segala kehendak-Ku.

Mengendalikan kehendak pribadi untuk tunduk pada kehendak Bapa di Sorga adalah hal yang tidak mudah, bahkan dianggap sulit bagi umat Tuhan di sepanjang zaman. Alkitab memaparkan dengan jelas bagaimana Daud dinyatakan oleh Tuhan sendiri sebagai seorang pribadi yang berkenan di hati-Nya oleh karena ia melakukan segala yang menjadi kehendak Tuhan. Pengalaman hidup Daud telah membuktikan apa jadinya ketika ia memaksakan melakukan kehendaknya sendiri, dan sebaliknya, apa jadinya saat ia merelakan dirinya untuk tunduk pada kehendak Tuhan.

Hampir semua pertikaian dan peperangan terjadi karena adanya kehendak pribadi yang diracuni oleh ambisi, keangkuhan, serta keinginan untuk dihormati. Manusia mengalami kesulitan yang sangat besar untuk merelakan bahwa kehendaknya tidak terlaksana demi menjaga keutuhan hubungan kasih antara satu dengan yang lain. Sebaliknya, manusia cenderung lebih senang mengorbankan hubungan kasih hanya demi menuruti kehendaknya sendiri yang belum tentu baik bila dilakukan.

Banyak orang terjangkit penyakit “sindrom maha tahu”, artinya selalu berpikir bahwa dirinya “tahu segalanya”, baik tentang negerinya, lingkungannya, keluarganya, perusahaannya, gerejanya, bahkan jalan hidupnya, sehingga seolah-olah tidak membutuhkan kehendak Tuhan. Bahkan, umat Tuhan yang seharusnya menjadi contoh dalam hal merelakan kehendaknya tidak terlaksana pun terjerat oleh penyakit yang sama, sehingga dunia tidak memiliki panutan tentang kerelaan melepaskan kehendak pribadi demi untuk melakukan sesuatu hal yang lebih berarti bagi orang banyak.

Tuhan Yesus Kristus telah memberi teladan tentang bagaimana Ia menundukkan kehendak pribadi-Nya untuk menuruti kehendak Bapa dengan cara yang sederhana sekali, yaitu mengikuti apa yang menjadi kehendak Bapa yang telah mengutus diri-Nya ke dalam dunia. Ia memilih mempertahankan hubungan kasih dengan Bapa-Nya sebagai hal yang terutama dibanding melakukan kehendak-Nya sendiri, sehingga terlihat jelas bahwa Ia dan Bapa adalah satu kehendak.

Inilah yang menjadi pesan Tuhan bagi kita di minggu pertama dalam bulan ini. Setelah dua minggu berturut-turut Tuhan memberikan pesan yang sama kepada kita,  yaitu tentang “roh yang merdeka.” Kini di minggu yang ketiga ini, Tuhan masih memberikan pesan yang sama pula. Inilah bukti bahwa Tuhan sangat menghendaki umat-Nya hidup dalam kemerdekaan yang sungguh-sungguh di dalam Dia. Orang yang hidup dengan mengandalkan kehendak dirinya sendiri terlihat begitu merdeka, namun seringkali diakhiri dengan adanya berbagai belenggu yang mengikat dirinya. Sebaliknya, orang yang hidup dengan mengutamakan kehendak Tuhan, ruang lingkupnya nampak terbatas, namun sesungguhnya ia sedang menjalani hidup dalam kemerdekaan yang sesungguhnya di dalam Tuhan.

Beberapa hal yang perlu kita ketahui sekaitan dengan melakukan kehendak Tuhan adalah :
(1). Melakukan kehendak Tuhan adalah kewajiban setiap orang percaya

Matius 12:46-50  (49) Lalu kata-Nya, sambil menunjuk ke arah murid-murid-Nya: “Ini ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku! (50) Sebab siapa pun yang melakukan kehendak Bapa-Ku di sorga, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku.”

Ketika itu Yesus sedang mengajar banyak orang, lalu sanak keluarga-Nya datang dan menyela kegiatan-Nya. Ibu dan saudara-Nya bersikeras ingin bertemu dengan-Nya, padahal Dia masih belum selesai mengajar. Bukankah ini suatu hal yang sangat umum dilakukan oleh sanak keluarga? Mereka selalu merasa bahwa mereka punya hak atas diri kita, tanpa memedulikan apapun hal yang sedang kita kerjakan. Mereka menyuruh seseorang untuk memberitahukan-Nya, padahal Yesus masih sedang mengajar. Sejenak pengajaran Yesus terhenti lalu Dia berkata, “Saudaraku dan ibuku adalah mereka yang melakukan kehendak Allah, Bapaku di surga.” Apa maksud dari perkataan Yesus ini?

Sebenarnya Yesus bukan tidak menghormati kehadiran ibu dan saudara-saudara-Nya, namun Ia sedang menekankan tentang perihal melakukan kehendak Bapa di Sorga adalah kewajiban setiap orang percaya, termasuk sanak keluarga-Nya sendiri. Mereka tidak bisa semena-mena datang dan menginterupsi perkataan Yesus yang sedang menyampaikan isi hati Bapa di Sorga, bahkan mereka pun seharusnya termasuk orang-orang yang harus turut mendengarkan dan melakukan apa yang sedang Yesus ajarkan. Hal pertama yang perlu kita perhatikan adalah, hubungan darah, pertalian antara manusia, tidak punya makna penting di dalam Kerajaan Allah. Hanya ada satu hal yang penting di dalam Kerajaan Allah, yaitu kehendak Allah. Dan ini adalah hal pokok yang harus dipahami oleh semua orang percaya.

(2). Kita mengetahui kehendak Tuhan melalui Firman dan Roh-Nya, dan Tuhan telah menyediakan keduanya

Matius 4:4 Tetapi Yesus menjawab: “Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah.”

Yesus sedang mengatakan bahwa Firman Allah adalah makanan-Nya. Ia menyatakan bahwa Ia hidup dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah. Dalam suatu kesempatan, Yesus pernah berkata kepada para murid-Nya, bahwa makanan-Nya ialah melakukan kehendak Bapa yang mengutus Diri-Nya dan menyelesaikan pekerjaan-Nya (Yoh. 4:34). Dengan kata lain, Yesus sedang mengungkapkan tujuan hidup yang sedang Ia jalani, yaitu melakukan kehendak Bapa di Sorga. Dan melakukan kehendak Bapa itu mencukupkan-Nya. Mengerjakan kehendak Allah adalah hal yang menyehatkan-Nya. Itulah pola kehidupan Yesus. Itulah kualitas hidup-Nya. Tekad Yesus di dalam menjalankan kehidupan ini hanya satu: kehendak Bapa, yang merupakan makanan bagi-Nya.

Ada hal indah lain dalam Yohanes 7:37-39, dimana Yesus berkata, “Barangsiapa haus, baiklah ia datang kepada-Ku dan minum!” Lalu kita lihat di ayat 38 dan 39 bahwa yang Dia maksudkan adalah Roh Kudus. Apa yang bisa kita tangkap dari beberapa ayat ini? Firman Allah adalah roti atau makanan dan Roh Allah adalah air. Firman Allah adalah makanan untuk kita makan, dan Roh Allah adalah air untuk kita minum. Dan semuanya adalah bahan dasar agar kita bisa mengetahui kehendak Tuhan. Seseorang bisa hidup untuk beberapa waktu tanpa makanan, akan tetapi manusia tidak bisa hidup tanpa air. Dengan kata lain, tak ada orang percaya yang bisa hidup tanpa Roh Allah. Orang percaya bahkan tidak bisa berbicara tentang kehendak Allah tanpa Roh Kudus. Roh Kuduslah yang memampukan kita untuk hidup. Dialah hidup kita. Dialah aliran-aliran air yang hidup itu, air yang kita terima dari Yesus.

Umat Tuhan, masih banyak hal lain yang dapat disingkapkan berkaitan dengan apa yang dimaksud dengan melakukan kehendak Tuhan. Tetapi setidaknya kita sudah dapat memahami bahwa adalah kewajiban setiap orang percaya untuk melakukan kehendak Bapa di Sorga. Dan untuk memahaminya, setiap kita butuh firman Tuhan serta pertolongan Roh Kudus.

Tuhan Yesus memberkati!

07 Juni 2015 – Melakukan Kehendak Tuhan (Roh yang Merdeka 3)

| Warta Jemaat | 0 Comments
About The Author
-

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>