1 Korintus 10:23-24 (23) “Segala sesuatu diperbolehkan.” Benar, tetapi bukan segala sesuatu berguna. “Segala sesuatu diperbolehkan.” Benar, tetapi bukan segala sesuatu membangun.

Kita tinggal di zaman dimana segala sesuatu sudah demikian terbuka. Berbagai informasi dari seluruh penjuru dunia dapat diakses dan masuk ke dalam kehidupan kita tanpa batas, hanya dengan menggunakan satu sentuhan tombol komputer, bahkan melalui satu sentuhan pada telepon genggam yang seringkali dibawa ke mana pun kita pergi. Apa tadinya terlihat begitu jauh dan sulit untuk dijangkau, melalui kecanggihan teknologi sekarang, tiba-tiba semua bisa tersedia di depan mata kita. Mulai dari hal-hal yang positif hingga hal-hal yang negatif, semua mengalir masuk dengan mudahnya. Semua generasi, baik anak-anak, hingga lanjut usia dapat mengakses seluruh informasi tanpa filter yang berarti. Bayangkan, betapa banyaknya contoh tindakan buruk yang mungkin dijadikan acuan untuk diterapkan ke dalam kehidupan kita sehari-hari.

Negara kita sendiri pun setelah era reformasi dimulai sekian tahun yang lampau, seakan-akan membuat banyak orang merasa bebas melakukan apa saja sekehendak hatinya sendiri, tanpa memikirkan diri orang lain ataupun norma-norma aturan yang berlaku. Bahkan sebagian orang hari-hari ini menerjemahkan reformasi dengan pengertian boleh melakukan apa saja semaunya tanpa batas, termasuk memaksakan kehendak sendiri, dan kalau perlu dengan kekerasan. Kata saling berpengertian dan toleransi semakin lama semakin luntur dari kehidupan masyarakat negeri kita tercinta ini. Menyampaikan isi hati pribadi tentu saja tidak salah, itu hak setiap warga negara, namun sebuah kemerdekaan tanpa rambu-rambu yang jelas bisa membahayakan bahkan menghancurkan, bukan saja diri sendiri tetapi juga orang banyak. Bahkan, bagi kita orang percaya, nama Tuhan Yesus bisa-bisa dipermalukan.

Jemaat Tuhan di Korintus di masa lampau pernah mengalami masa-masa seperti itu. Mereka tinggal di sebuah kota modern berperadaban tinggi pada zamannya, sarat dengan berbagai ragam budaya, termasuk di dalamnya berbagai bentuk penyembahan berhala dan pemujaan disertai persembahan makanan bagi dewa-dewa. Kemerdekaan di dalam Kristus sayangnya oleh mereka diartikan sebagai suatu kebebasan untuk melakukan apa saja sekehendak hati mereka tanpa mengindahkan aspek kebenaran firman Tuhan.

Bagaimana dengan kita di masa sekarang, sebagai orang percaya yang sudah dimerdekakan oleh Kristus di atas kayu salib? Apakah artinya kitapun boleh melakukan apa saja sekehendak hati kita sendiri? Apakah segala sesuatu yang dipandang benar menurut kacamata kita boleh seenaknya saja kita lakukan tanpa pertimbangan-pertimbangan dari berbagai aspek lain? Rasul Paulus menegaskan bahwa betul kita memiliki kebebasan untuk melakukan segala sesuatu, tetapi bukan segala sesuatu itu berguna. Segala sesuatu memang diperbolehkan, itu benar, tetapi apakah hal itu membangun sesuatu? Pertimbangkanlah!

Lewat pesan Tuhan minggu ini, ada beberapa hal yang perlu kita pertimbangkan sebelum melakukan segala sesuatu, di antaranya yaitu:

(1) . Apakah yang kita lakukan itu berguna bagi kita dan sesama atau tidak?

1 Kor. 10:23a “Segala sesuatu diperbolehkan.” Benar, tetapi bukan segala sesuatu berguna. …

Makna kata “berguna” (Yun. : Sumphero) yang dimaksud oleh rasul Paulus memiliki makna sesuatu yang manfaatnya dapat dirasakan secara bersama-sama oleh semua pihak. Masih banyak dari antara kita orang percaya yang melakukan segala sesuatu dengan prinsip “yang penting aku senang melakukannya” atau “yang penting aku puas sudah melakukannya” tanpa memerdulikan atau memikirkan dampak yang akan terjadi dan apa yang akan orang lain rasakan akibat perbuatan kita. Entahkah orang lain menjadi terluka atau menjadi sakit hati, hal itu dianggap sudah bukan urusan kita lagi. Jangan sampai kita melakukan sesuatu yang dianggap baik bagi diri kita, tetapi sebenarnya mengganggu kepentingan atau bahkan merugikan orang lain. Ingatlah bahwa Tuhan mau setiap kita menjadi alat pembebas yang efektif, dan bukannya menjadi “alat peluka” yang efektif.

(2). Apakah yang kita lakukan itu membangun kehidupan rohani kita dan orang lain atau tidak?

1 Kor. 10:23b … “Segala sesuatu diperbolehkan.” Benar, tetapi bukan segala sesuatu membangun.

Makna kata “membangun” (Yun. : Oikodomeo) yang dimaksud oleh rasul Paulus memiliki makna menguatkan, memulihkan, memperbaiki, memberikan pertumbuhan agar menjadi bijak, penyayang, kudus dan berlimpah anugerah. Betapa luar biasanya makna dari sebuah kata “membangun” itu. Seringkali kita tidak memikirkan sejauh mana dampak dari perbuatan atau perkataan kita. Kita hanya sekedar mengeluarkannya begitu saja tanpa pertimbangan yang matang. Tuhan mau memastikan bahwa setiap perkataan atau tindakan yang kita lakukan selain membangun diri kita sendiri, juga harus membangun orang lain.

Seorang pengkhotbah di mimbar sekalipun, apabila tidak sungguh-sungguh mendasari perkataannya dengan tuntunan Roh Kudus, bukan mustahil justru menghancurkan kehidupan rohani banyak orang termasuk dirinya sendiri. Oleh sebab itu, pastikanlah dengan baik, apakah “pendapat Tuhan” ataukah “pendapat diri sendiri” yang disampaikan.

(3). Apakah yang kita lakukan itu memuliakan nama Tuhan atau tidak?

1 Kor. 10:31 Aku menjawab: Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah.

Jemaat Tuhan di Korintus merasa memiliki kebebasan untuk makan dan minum apa saja, dan itu dibenarkan oleh rasul Paulus karena bumi serta segala isinya adalah milik Tuhan. Namun rasul Paulus juga mengingatkan bahwa apabila ada orang yang menjadi tersandung oleh karena apa yang kita makan atau minum, maka baiklah kita tidak memakan atau meminumnya. Pada masa itu banyak makanan dan minuman hasil penyembahan berhala yang dijual kembali di pasar-pasar atau dihidangkan lagi di dalam jamuan-jamuan keluarga.

Jadi intinya, segala sesuatu, entahkah perkara  makan dan minum, ataupun segala perbuatan yang kita lakukan, kalau itu memaksakan kehendak dengan cara-cara yang tidak baik, memusuhi orang lain, menghakimi, memupuk dendam, membalas kejahatan dengan kejahatan dan lain-lain, akan membuat kita justru menjadi batu sandungan yang pada akhirnya malah mempermalukan nama Tuhan, dan bukan memuliakan-Nya.

Mari umat Tuhan, kehidupan merdeka yang kita miliki seharusnya dipakai sebagai sarana memuliakan nama Tuhan Yesus lebih lagi, dan bukan untuk disalahgunakan begitu saja tanpa pertimbangan-pertimbangan yang didasari oleh kebenaran yang akhirnya akan menghancurkan diri kita sendiri, keluarga maupun orang lain. Dalam Kristus kita sudah menjadi ciptaan baru, dengan pola pikir yang seharusnya baru pula yang akan memampukan kita untuk menyikapi kebebasan dengan rasa penuh tanggung jawab. Kebebasan diberikan kepada kita bukan untuk membuat segalanya semakin buruk, tetapi justru agar kehidupan manusia bisa semakin baik.

Tuhan Yesus memberkati!

06 Maret 2016 – Mempertimbangkan dahulu segala sesuatu

| Warta Jemaat | 0 Comments
About The Author
-

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>