Roma 12:2  Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.

Selama tiga minggu berturut-turut ini Tuhan telah menyatakan pesan yang sama kepada kita, yaitu bahwa Ia ingin setiap kita, umat-Nya, memiliki cara pandang yang benar. Orang yang memiliki cara pandang yang benar akan membawa dirinya ke arah yang benar dan mencapai tujuan yang benar pula. Sebaliknya, orang yang memiliki cara pandang yang salah akan membawa dirinya kepada hal-hal yang salah, yang akhirnya tidak mencapai tujuan seperti yang Allah kehendaki.

Salah satu tujuan rasul Paulus menulis surat kepada jemaat Tuhan di Roma ini adalah mengajar orang percaya agar memiliki pengertian yang benar tentang Injil Kristus yang diberitakan rasul Paulus yang seringkali diputarbalikkan oleh orang-orang yang merasa tahu tetapi sebenarnya tidak tahu, bahkan diputarbalikkan oleh penyesat-penyesat. Belum lagi mereka seringkali dibuat bingung saat melihat cara hidup orang-orang Yahudi yang sangat toleran dengan adat kebiasaan bangsa-bangsa yang belum mengenal Kristus. Hal-hal inilah yang dikuatirkan oleh rasul Paulus akan memengaruhi cara hidup jemaat Tuhan sehingga tidak dapat lagi membedakan antara kehendak Allah dengan kehendak dunia.

Melalui pesan-pesan-Nya selama beberapa minggu terakhir ini, Tuhan mau kita menjadi umat yang tajam, yang benar-benar mengetahui mana kehendak Allah, apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna. Pernah suatu kali Petrus ditegur dengan keras oleh Gurunya, bahkan dikatakan sebagai batu sandungan, ketika ia berusaha melarang Yesus menanggung penderitaan memikul kayu salib di Yerusalem. Apa yang dilakukan Petrus seolah-olah merupakan sesuatu yang baik bagi Gurunya, yaitu agar Yesus tidak mengalami siksaan. Namun di mata Bapa sorgawi, perbuatan Petrus sangat bertentangan dengan rancangan Sorga yang menghendaki Yesus mati di kayu salib untuk menebus dosa seluruh umat manusia.

Untuk mengetahui kehendak Allah dengan benar, berdasarkan pesan Tuhan di atas, minimal ada empat hal yang harus kita terapkan dalam pengiringan kita kepada Tuhan:

(1). Presentation (Present our bodies to God as living sacrifices) – Persembahkan tubuh kita kepada Allah sebagai persembahan yang hidup.

Roma 12:1  . . . supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.

Yesus yang sudah menyerahkan tubuh-Nya untuk disiksa dan rela mati di atas kayu salib demi menebus dosa kita, telah menjadikan diri kita sebagai bukan milik kita lagi, karena kita sudah dibeli dan dibayar lunas oleh kematian-Nya. Kita sudah sepenuhnya menjadi milik Sang Penebus, yaitu Tuhan Yesus Kristus. Atas dasar itulah maka mulai sejak saat itu, kita sudah sepatutnya menyerahkan seluruh hidup kita kepada Tuhan dan siap digunakan sebagai alat di tangan-Nya. Minggu lalu kita diingatkan pula bahwa mereka yang siap untuk membajak, namun masih menoleh ke belakang, maka sesungguhnya mereka tidak layak untuk Kerajaan Allah.

Sejak diubahkan Tuhan lewat “peristiwa Damsyik”, hidup yang tadinya rasul Paulus persembahkan bagi ego dan kebanggaan dirinya sendiri sebagai orang yang merasa sudah melaksanakan seluruh hukum Allah tanpa cela, bahkan menyiksa pengikut Kristus ia anggap suatu pahala yang besar, dengan segera semua itu ia tinggalkan dan dianggap sampah, dan mengarahkan pandangannya ke depan serta mempersembahkan tubuhnya sebagai pengikut Kristus yang sejati.

(2). Separation (Avoid conforming to the worlds ways) – Memisahkan hidup dengan cara-cara dunia.

Roma 12:2 Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, . . .  .

Hidup mendua hati, seperti yang dilakukan orang Yahudi di masa rasul Paulus menulis surat untuk jemaat Roma, dimana mereka di satu sisi menyembah kepada Allah, namun di sisi lain masih hidup dengan mengikuti tata cara dan kebiasaan bangsa-bangsa yang masih menyembah kepada allah lain dengan segala kebiasaannya yang menyimpang, membuat mereka tidak akan pernah memiliki cara pandang yang benar akan kehendak Allah.

Kerinduan untuk memiliki cara pandang yang benar tidak akan terjadi dengan sendirinya, tanpa didahului dengan keputusan untuk mau hidup terpisah dari prinsip-prinsip dunia yang bertentangan dengan prinsip-prinsip Kerajaan. Bersyukur untuk firman Tuhan dan Roh Kudus yang Tuhan berikan kepada kita, karena itu semua merupakan kompas hidup atau GPS bagi kita yang ditempatkan sementara waktu di dunia yang gelap ini. Keputusan untuk mau hidup di dalam-Nya adalah pilihan bebas bagi kita.

(3). Transformation (Renew our minds through Christ) – Pembaharuan cara berpikir kita melalui Kristus

Roma 12:2  . . . tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, . . .  .

Apa yang membuat dua perusahaan menjalankan bisnisnya dengan cara yang berbeda dan dengan hasil yang berbeda pula? Salah satu kemungkinan penyebabnya adalah karena mereka memiliki visi yang berbeda. Dunia saat ini dikatakan Alkitab sedang lenyap dengan segala keinginannya, namun orang yang hidup dengan melakukan kehendak Allah akan tetap hidup selama-lamanya. Kita dapat melihat perbedaan yang jelas dan sangat kontras antara orang yang hidup mengikuti kehendak dunia dengan orang yang hidup mengikuti kehendak Allah. Oleh sebab itu, kalau kita berkata bahwa kita memiliki visi hidup kekal di Kerajaan Sorga selama-lamanya, maka cara berpikir kita sudah saatnya ditransformasikan dengan mengikuti pola pikir Kerajaan Sorga. Karena sudah jelas terdapat perbedaan yang sangat bertolak belakang dan hasil akhir yang berbeda pula antara dunia dengan Sorga. Pola pikir yang terus-menerus diselaraskan dengan Sorga membuat kita semakin mengerti kehendak Allah.

(4). Demonstration (Prove we belong to God by doing His will) – Tunjukkan bahwa kita milik Tuhan dengan cara melakukan kehendak-Nya.

Roma 12:2  . . . dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.

Tidak ada orang yang menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang, melainkan meletakkannya di atas sebuah kaki dian sehingga menerangi semua orang yang berada di dalam rumah itu. Hidup yang telah kita persembahkan kepada Tuhan sebagai persembahan yang hidup kepada-Nya, keputusan untuk mau memisahkan hidup dari prinsip-prinsip dunia, ditambah pembaharuan pola pikir yang terus-menerus dilakukan menghasilkan sebuah gaya hidup yang mampu membedakan mana kehendak Allah dan mana yang bukan, serta tahu melakukan hal yang berkenan kepada Allah yang akan menghasilkan suatu kehidupan yang memuliakan nama Yesus. Sebetulnya, di visi Generasi Terang ini, adalah saat dimana kita umat Tuhan mendemonstrasikan dan menyuarakan kepada dunia, suatu kehidupan yang memengaruhi dan memberkati dunia, bukan kehidupan yang dipengaruhi dunia, yaitu dengan cara berjalan sebagai orang-orang yang mengetahui kehendak Allah.

Tuhan Yesus memberkati!

05 Mei 2013 – Mengetahui Kehendak Allah (Mengenakan Kacamata Kedua, Bag. 3)

| Warta Jemaat | 0 Comments
About The Author
-

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>