1 Tawarikh 12:1- 3, 14, 18 (14) Mereka itulah dari bani Gad, kepala-kepala pasukan; satu orang yang paling kecil sanggup melawan seratus orang, dan yang paling besar sanggup melawan seribu orang.

Setelah Saul meninggal akibat perbuatannya yang tidak setia terhadap Tuhan, maka Dia menyerahkan jabatan raja Israel kepada Daud bin Isai. Berkumpullah segenap tua-tua Israel menghadap Daud untuk memintanya menjadi pemimpin atas mereka. Lalu Daud mengadakan perjanjian dengan mereka di Hebron di hadapan Tuhan, kemudian mereka mengurapi Daud menjadi raja atas Israel, seperti yang difirmankan Tuhan dengan perantaraan nabi Samuel.

Kepemimpinan Daud yang kuat ternyata tidak lepas dari keberadaan orang-orang yang menyertai di bawahnya. Ada kepala-kepala para pahlawan yang mengiringi Daud, yang telah memberi dukungan yang kuat kepadanya, bersama-sama seluruh bangsa Israel, dalam mencapai kedudukan raja dan yang kemudian mengangkatnya sebagai raja.

Kalau kita perhatikan nama-nama para pahlawannya Daud, ternyata mereka bukanlah semata-mata orang-orang yang sekedar setia mengikut Daud saja, namun mereka juga adalah orang-orang yang luar biasa. Bukan luar biasa karena mereka adalah para pengikut Daud yang terkenal, melainkan karena mereka adalah orang-orang yang sangat terampil menggunakan senjata dan cakap berperang. Mereka bersenjatakan panah, dan sanggup melontarkan batu dan menembakkan anak-anak panah dari busur dengan tangan kanan atau tangan kiri (ayat 2).

Namun ternyata orang-orang ini juga bukan hanya terampil menggunakan senjata dan cakap berperang saja, tapi mereka juga adalah orang-orang yang diurapi Tuhan (ayat 18). Dan hal inilah yang menyempurnakan atau “membungkus” keahlian mereka, sehingga mereka menjadi orang-orang yang sangat luar biasa di bidangnya. Ternyata kriteria Daud dalam memilih pasukannya adalah bukan hanya sekedar cakap, mampu dan terampil dalam menggunakan alat, tetapi juga diurapi oleh Tuhan. Dan yang dimaksud dengan diurapi adalah bukan “pernah diurapi” atau “kadang-kadang diurapi”, melainkan “senantiasa diurapi”. Efesus 5:18 Dan janganlah kamu mabuk oleh anggur, karena anggur menimbulkan hawa nafsu, tetapi hendaklah kamu penuh dengan Roh. Diurapi mengandung arti kepenuhan Roh senantiasa dan terus menerus.

Inilah yang menjadi pesan Tuhan bagi kita di minggu ini. Hari-hari ini Tuhan sedang membangkitkan para pemercaya Kristus untuk tampil bukan hanya sekedar menjadi pengikut Tuhan yang setia beribadah saja, namun juga sebagai kepala-kepala (pemimpin-pemimpin) yang tampil sebagai prajurit-prajurit Kristus yang gagah perkasa. Sudah sekian lama banyak pemercaya Kristus yang menjalani hidup yang tidak semestinya atau tidak pada panggilannya. Banyak yang tidak menyadari keberadaan dirinya, kemampuannya, dan untuk tujuan apa ia dipilih Tuhan.

Beberapa hal yang perlu kita ketahui sekaitan dengan makna menjadi “kepala yang gagah perkasa” ini, di antaranya adalah:

(1). Seorang yang memiliki kualitas hidup yang mampu menjadi teladan

Kejadian 39:5  Sejak ia memberikan kuasa dalam rumahnya dan atas segala miliknya kepada Yusuf, TUHAN memberkati rumah orang Mesir itu karena Yusuf, sehingga berkat TUHAN ada atas segala miliknya, baik yang di rumah maupun yang di ladang.

Makna “kepala” (Ibr.: rosh) dalam bahasa aslinya memiliki arti yang luar biasa, yakni pemimpin, orang yang utama, pengatur, atau orang yang mampu menjadi teladan dan memiliki dampak bagi orang lain. Terlepas dari jabatan atau pun posisi apa yang sedang dipercayakan kepada kita saat ini, entahkah posisi tinggi sebagai seorang pemimpin atau posisi rendah sekalipun, Tuhan mau kita menjadi pribadi-pribadi yang memiliki kualitas hidup yang dapat memberikan pengaruh positif. Itu baru namanya kepala atau pemimpin.

Yusuf merupakan contoh pribadi yang meskipun sedang berada di garis bawah dalam kehidupannya, namun ia mampu menunjukkan kualitas hidup sebagai seorang kepala. Sebagai seorang budak, Yusuf bisa saja bertindak sebagai seorang “pengekor” yang berarti hanya sebagai pengikut yang tidak memiliki inisiatif apa-apa. Pengekor hanyalah seorang yang berjalan membuntuti tuannya tanpa mengerti maksud dan tujuannya selain menempel di belakang. Pengekor adalah seorang yang harus diperintah terlebih dahulu untuk melakukan tugasnya. Namun sebaliknya, Yusuf malah menunjukkan “kelasnya” sebagai seorang yang bisa dipercaya, bahkan oleh karena keberadaan Yusuf  maka Tuhan memberkati Potifar, rumahnya, dan segala yang dimilikinya.

(2). Seorang yang memiliki mentalitas Kerajaan

Kejadian 39:9B  Bagaimanakah mungkin aku melakukan kejahatan yang besar ini dan berbuat dosa terhadap Allah?”

Ternyata kata “kepala” tidak hanya memiliki makna guna menunjukkan identitas jabatan atau posisi seseorang saja, namun juga menunjukkan mentalitas seseorang. Ternyata, tingginya jabatan atau pangkat seseorang tidaklah berbanding lurus dengan sikap dan mentalitasnya, demikian juga sebaliknya. Orang yang tinggi posisinya bukan jaminan bahwa ia memiliki akhlak dan mentalitas yang terpuji. Sebaliknya, orang-orang yang memiliki posisi rendah dan jabatan yang tidak dipandang mata oleh orang-orang bukan jaminan bahwa ia pasti memiliki moral yang rendah.

Kata “kepala” yang dimaksudkan Tuhan di sini adalah orang-orang yang memiliki visi dan mentalitas Kerajaan Sorga, terlepas dari apapun posisi dan jabatan yang diembannya. Orang yang demikian sepatutnya memiliki mentalitas Kerajaan yang diwakilinya. Yusuf meskipun ia tidak tahu kapan waktu penggenapan dari mimpi yang pernah ia terima dari Tuhan, yaitu menjadi seorang penguasa kelak, namun mentalitasnya sebagai seorang duta Kerajaan Sorga telah melekat pada dirinya. Terbukti ketika isteri Potifar berulang kali menggodanya untuk tidur bersamanya, Yusuf sedikitpun tidak tergoda untuk meladeninya, karena ia sadar bahwa seorang yang membawa visi Kerajaan Sorga tidak akan menggagalkannya dengan tangannya sendiri dengan melakukan hal-hal yang rendah di hadapan Allahnya.

Mari umat Tuhan, masih banyak lagi hal-hal yang dimaksudkan dengan menjadi kepala. Hari-hari ini dunia sedang kehilangan teladan (role model) dan figur kepemimpinan yang berkenan di mata Tuhan di dalam setiap aspek kehidupan, baik di pemerintahan, dunia usaha, keluarga, dunia pendidikan, termasuk di dalam gereja. Biarlah para kepala yang gagah perkasa itu muncul dari antara kita orang-orang percaya dalam Kristus.

Tuhan Yesus memberkati!

04 September 2016 – Menjadi Kepala Yang Gagah Perkasa

| Warta Jemaat | 0 Comments
About The Author
-

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>