Ezra 7:10 Sebab Ezra telah bertekad untuk meneliti Taurat TUHAN dan melakukannya serta mengajar ketetapan dan peraturan di antara orang Israel.

Alkitab mencatat bahwa Ezra adalah seorang ahli kitab dan ia ahli dalam Taurat Musa. Ia dapat menjadi seorang ahli karena memelajari sungguh-sungguh kitab Taurat tersebut. Ia bukan hanya sekedar membacanya, tetapi ia juga menyelidiki, memelajari Taurat itu dan menjadi ahli karena ia menjadikan Taurat sebagai santapan rohani yang terus-menerus ia baca dan renungkan. Tidak ada seorangpun dapat menjadi ahli dan mahir dalam sesuatu bidang tanpa ia mau terus membaca, memelajari dan meneliti sesuatu yang sedang ditekuninya. Ternyata apa yang dilakukan Ezra adalah salah satu kunci bagaimana ia mengalami banyak hal yang luar biasa dalam hidupnya, dan salah satunya adalah dari seorang raja atas suatu bangsa yang tidak mengenal Allah.

Belajar dari Ezra, untuk dapat menjadi pribadi yang berhasil di dalam Tuhan kita juga harus tekun didalam membaca firman Tuhan agar dapat mengerti kehendak Tuhan. Bukan hanya sekedar membaca, tapi juga sungguh-sungguh memelajarinya, menelitinya, dan merenungkannya. Selain itu, kegunaan yang lain adalah di saat ada ajaran-ajaran yang tidak sesuai dengan firman Tuhan, kita bisa mengetahuinya dan tidak terpengaruh olehnya. Oleh sebab itu, menjadikan firman Tuhan sebagai makanan yang harus dinikmati dan direnungkan tiap hari merupakan pilihan yang tepat.

Kunci utama keberhasilan Ezra sebenarnya terletak pada ayat 10. Dikatakan bahwa Ezra telah bertekad untuk meneliti Taurat Tuhan dan melakukannya serta mengajar ketetapan dan peraturan di antara umat Israel. Tekad adalah suatu kemauan yang kuat yang tidak dapat dipengaruhi oleh apapun. Sekalipun mungkin ia tidak memiliki banyak harta benda, tidak memiliki makanan berlimpah, tidak terlalu disukai orang, direndahkan orang, atau apapun juga, namun ia tetap meneliti, melakukan, dan mengajar Taurat Tuhan. Ezra tidak berhenti melakukannya hanya karena ada hal-hal yang seolah-olah merintanginya, karena ia memiliki tekad.

Ada perbedaan yang mencolok antara orang-orang yang “sekedar mau” dengan orang-orang yang “memiliki tekad.” Mereka yang “sekedar mau” adalah orang-orang yang memiliki sebuah kerinduan atau sebuah tujuan untuk ingin memiliki atau menjadi sesuatu, namun sayangnya, kerinduan mereka hanya berhenti sampai pada keinginan hati saja tanpa disertai tindakan yang nyata. Atau bisa juga orang tersebut melakukan sebuah tindakan, namun hanya kurang sungguh-sungguh. Berbeda dengan orang-orang yang “sekedar mau”, orang-orang yang “memiliki tekad” adalah mereka yang bukan hanya memiliki kerinduan hati dan kemauan yang kuat saja, tetapi juga orang-orang yang menindaklanjutinya dengan sebuah tindakan nyata untuk mau melesat maju dan meraih sukses atas apa yang telah menjadi sasarannya.

Inilah yang menjadi pesan Tuhan bagi kita, bahwa hari-hari ini banyak orang percaya yang kurang memiliki tekad yang kuat di dalam pengiringan mereka kepada Kristus. Bukannya tidak memiliki kerinduan atau pun tujuan, hanya kurang memiliki hasrat atau dorongan hati yang kuat untuk melaksanakannya. Kalau pun mencoba untuk melakukannya, ketika suatu tantangan mencoba menghadang, maka seketika itu pun surutlah semangat untuk menyelesaikan apa yang telah dimulainya tersebut. Bukankah setiap kita, orang-orang percaya, rindu untuk menjadi pribadi-pribadi yang luar biasa dan berhasil di dalam Kristus?

Beberapa pengertian dan makna dari memiliki tekad, di antaranya adalah sebagai berikut:

(1). Memiliki komitmen yang kuat 

Ezra 7:10 Sebab Ezra telah bertekad untuk meneliti Taurat TUHAN dan melakukannya serta mengajar ketetapan dan peraturan di antara orang Israel.

Dalam sejarah bangsa Israel, ada orang-orang yang terkenal sebagai tokoh pembaharuan bagi Israel. Salah satu daro tokoh-tokoh tersebut adalah Ezra. Ezra adalah orang yang melakukan suatu pembaharuan secara rohani yang menuntun Israel sampai pertobatan.

Ezra adalah seorang imam yang luar biasa. Dia menyadari bahwa Tuhan telah menggenapi janji-Nya untuk memulihkan bangsa Israel (termasuk mengembalikan dari pembuangan). Agar bisa terlibat dalam pekerjaan Tuhan, Ezra menyiapkan diri. Ezra adalah seorang ahli kitab, seorang yang mahir dalam Taurat Musa. Akan tetapi, kualifikasi sebagai ahli kitab yang mahir dalam Taurat Musa saja tidaklah cukup untuk terlibat dalam pekerjaan Tuhan.

Alkitab menambahkan satu kualifikasi yang penting dalam diri Ezra, yaitu “tekad”. Dengan perkataan lain, Ezra telah menyiapkan hati dan berkomitmen untuk menggunakan segala keahliannya bagi pekerjaan Tuhan. Tekad hati atau komitmen membuat Ezra meneliti firman Tuhan. Ezra berusaha memahami maksud dan keinginan Allah dalam segala aspek kehidupan. Setelah itu, Ezra sendiri melakukan apa yang telah dia mengerti. Kemudian barulah Ezra mengajarkan firman itu. Ezra adalah seorang pemimpin yang bukan sekedar berbicara, tetapi Ezra mengajarkan apa yang dia lakukan.

(2). Keberanian untuk mengambil keputusan yang menyukakan Tuhan

Bil. 25:11 “Pinehas, anak Eleazar, anak imam Harun, telah menyurutkan murka-Ku dari pada orang Israel, oleh karena ia begitu giat membela kehormatan-Ku di tengah-tengah mereka, sehingga tidaklah Kuhabisi orang Israel dalam cemburu-Ku.

Ketika bangsa Israel tinggal di Sitim, mulailah bangsa itu berzinah dengan perempuan-perempuan Moab. Perempuan-perempuan ini mengajak bangsa itu ke korban sembelihan bagi allah mereka, lalu bangsa itu turut makan dari korban itu dan menyembah allah orang-orang itu. Bangkitlah murka Tuhan terhadap Israel. Kebetulan datanglah salah seorang Israel membawa seorang perempuan Midian kepada sanak saudaranya dengan dilihat Musa dan segenap umat Israel yang sedang bertangis-tangisan di depan pintu Kemah Pertemuan. Ketika hal itu dilihat oleh Pinehas, anak Eleazar, anak imam Harun, bangunlah ia dari tengah-tengah umat itu dan mengambil sebuah tombak di tangannya, mengejar orang Israel itu sampai ke ruang tengah, dan menikam mereka berdua, yakni orang Israel dan perempuan itu, pada perutnya. Maka berhentilah tulah itu menimpa orang Israel.

Tuhan dalam diri-Nya mengandung kuasa, hormat dan kemuliaan. Banyak orang percaya memahami tentang kemuliaan dan kuasa, namun kurang memahami dengan apa yang disebut hormat akan Tuhan. Kita tidak bisa menyukai satu hal dalam diri Tuhan, namun tidak menyukai hal lain dalam diri Tuhan karena semua itu merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Kalau kita mengharapkan kuasa dan kemuliaan-Nya, seharusnya kita hidup dalam keadaan menghormati Allah (honoring God). Kekristenan tidak mengajarkan hanya salah satu atau hanya dua, melainkan ketiganya. Salah satu tindakan menghormati Tuhan adalah seperti yang dilakukan Pinehas. Ketika banyak orang Israel ragu untuk bertindak benar, Pinehas memilih untuk melakukannya. Suatu keputusan yang tidak favorit, namun menyukakan hati Tuhan. Pinehas memiliki sebuah tekad untuk menghormati Tuhan.

Mari umat Tuhan, memiliki keinginan untuk melakukan sesuatu bagi Tuhan adalah baik, namun belumlah cukup apabila tidak disertai dengan sebuah tekad untuk mewujudkannya, sehingga hal itu menyukakan hati Tuhan. Tekad dapat mengalahkan segala kelemahan dan halangan. Selamat bertekad!

Tuhan Yesus memberkati

04 Juni 2017 – Bukan Sekedar Mau, Tetapi Miliki Tekad

| Warta Jemaat | 0 Comments
About The Author
-

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>