1 Korintus 4:15-17 (16) Sebab itu aku menasihatkan kamu: turutilah teladanku! 
Justru itulah sebabnya aku mengirimkan kepadamu Timotius, yang adalah anakku yang kekasih dan yang setia dalam Tuhan. Ia akan memperingatkan kamu akan hidup yang kuturuti dalam Kristus Yesus, seperti yang kuajarkan di mana-mana dalam setiap jemaat.

Pernyataan rasul Paulus yang ditujukan kepada jemaat Tuhan di Korintus ini bukan semata-mata sebuah perintah yang tanpa alasan. Rasul Paulus tidaklah semena-mena memerintahkan orang-orang untuk mengikuti teladannya begitu saja. Perkataan “turutilah teladanku!” mungkin hanya sebuah kalimat singkat dan sederhana, tapi apabila direnungkan kalimat yang singkat itu sebenarnya tidaklah ringan. Ia tidak mungkin berani berkata seperti itu apabila ia tidak atau belum menunjukkan teladan apapun seperti yang ia sampaikan mengenai kebenaran firman Tuhan.

Berdasarkan catatan yang ada di Alkitab, kita mengetahui cara hidup rasul Paulus. Ia mengalami perubahan hidup 180 derajat dalam waktu relatif singkat. Dari penganiaya orang percaya, ia berubah menjadi seorang yang sangat radikal dan berani dalam menyebarkan Injil keselamatan. Ia mengabdikan seluruh sisa hidupnya untuk pergi ke berbagai pelosok dalam menjalankan misinya bahkan hingga sampai di Asia kecil.

Rasul Paulus bukanlah seorang yang bermental lemah. Ia tahu di atas segalanya keselamatan yang ia terima merupakan sebuah anugerah yang luar biasa besar sehingga ia ingin melihat banyak orang bisa mengikuti jejaknya. Ia memang berkeliling menyampaikan berita keselamatan, tetapi yang jauh lebih penting adalah ia mencontohkan aplikasi kebenaran itu melalui cara hidupnya sendiri. Jelas bahwa ia benar-benar menghayati keselamatan yang diperolehnya dengan penuh rasa syukur dan mempergunakan seluruh sisa hidupnya secara penuh hanya untuk Tuhan.

Alasan rasul Paulus agar jemaat Korintus menuruti teladannya adalah karena ia menyadari bahwa jemaat yang masih muda usia ini tidak akan terlalu banyak menangkap apa yang ia ajarkan kalau semua itu disampaikan hanya melalui perkataan saja. Ternyata daya tangkap seseorang untuk bisa mengerti sesuatu yang disampaikan lewat perkataan sangatlah terbatas. Orang bisa menangkap lebih banyak hal apabila kebenaran itu disampaikan bukan hanya melalui kata-kata, melainkan melalui contoh nyata atau alat peraga juga. Seperti halnya guru-guru sekolah minggu yang seringkali menggunakan alat peraga di dalam menyampaikan cerita Alkitab. Tujuannya tidak lain adalah agar memudahkan anak-anak mengerti apa yang menjadi maksud dan tujuan dari cerita yang sedang disampaikan oleh sang guru. Itulah sebabnya, kepada jemaat di Korintus rasul Paulus menggunakan sebuah alat peraga, yaitu keteladanan hidupnya sendiri, agar jemaat Korintus mengerti apa yang ia sampaikan.

Inilah yang menjadi pesan Tuhan bagi kita di minggu ini. Dunia hari-hari ini sedang kehilangan sebuah model yang benar untuk dijadikan contoh. Pengertian teladan atau role model sudah begitu menyimpang. Banyak orang yang keliru mengambil figur panutan dan meneladani perilaku-perilaku buruk dari figur tersebut. Ketika orang percaya tidak bersedia untuk menjadi model mewakili Kerajaan Sorga, maka si jahat akan terus memunculkan “model-model” yang salah, yang menampilkan perilaku-perilaku buruk untuk dicontoh oleh banyak orang. Tuhan mau kita menjadi orang-orang yang bersedia untuk berani berkata “turutilah teladanku!”

Beberapa hal yang perlu kita ketahui berkaitan dengan pesan Tuhan di atas:

(1). Belajar melalui keteladanan Bapa Sorgawi

Yohanes 15:12 “Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu.”

Semasa hidup-Nya yang singkat di muka bumi ini, Yesus pun menunjukkan metode hal yang sama. Segala yang Dia ajarkan telah Dia contohkan secara langsung. Lihatlah sebuah contoh dari perkataan Yesus sendiri ketika ia mengingatkan kita untuk merendahkan diri dan menjadi pelayan dan hamba dalam Matius 20:26-27. Yesus berkata: “sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.” (ay 28). Apa yang diajarkan Yesus telah Dia contohkan secara nyata.

Ketika Bapa Sorgawi hendak mengajarkan umat manusia yang sudah jatuh ke dalam dosa tentang makna kasih Ilahi yang tidak terbatas dan tidak bersyarat, maka Ia tidak begitu saja memberikan sebuah kitab yang berisi tentang sejumlah pelajaran tentang kasih. Apa yang Bapa lakukan? Ia memilih untuk melepaskan keilahian-Nya kemudian turun ke dunia menjadi manusia dan mengambil rupa seorang hamba serta rela didera dan dianiaya untuk pada akhirnya mati di kayu salib. Ia memberikan nyawa-Nya demi untuk menebus kita semua. Yesus membuktikannya secara langsung lewat karya penebusan-Nya.

(2). Belajar melalui keteladanan bapa jasmani (orang tua)

Efesus 6:4 Dan kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan.

Orang-orang yang menjadi teladan adalah orang berintegritas yang punya kesesuaian antara perkataan dan perbuatan. Itulah sebabnya, untuk menjadi teladan bukanlah perkara mudah. Bila dalam mengajar kita hanya perlu membagikan ilmu dan pengetahuan lewat perkataan, tetapi dalam menerapkan keteladanan kita harus mengadopsi langsung seluruh nilai-nilai  yang kita ajarkan untuk ditunjukkan secara langsung melalui perbuatan kita, dan siap dicontoh oleh mereka. Ada orang-orang yang mampu menunjukkan nilai-nilai kebenaran dalam hidupnya sehingga mampu memberi pengajaran tersendiri meski tanpa mengucapkan kata-kata sekalipun. Sebaliknya, ada orang yang terus berbicara tapi hasilnya tidak maksimal karena tidak disertai dengan contoh nyata dari cara atau sikap hidupnya. Dan itu akan sia-sia saja pada akhirnya.

Ada banyak orang tua yang di satu sisi mereka melarang anak-anaknya untuk tidak melakukan ini dan itu, tapi di sisi lain mereka melanggar sendiri peraturan yang mereka buat. Ini bukanlah sikap orang yang bisa dijadikan teladan karena ternyata hanya bisa memerintah tanpa mencontohkan. Anak akan sulit belajar tentang kebenaran jika berada dalam bentuk keluarga seperti itu. Ketika anak melihat sikap orang tua yang tidak konsekuen, maka lama-lama timbullah kemarahan pada diri si anak. Dan hal ini akan mengakibatkan terjadinya hal-hal yang lebih buruk lagi.

Mari umat Tuhan, ada begitu banyak orang-orang di sekeliling kita, termasuk anggota keluarga kita, yang rindu mendapat figur yang tepat untuk dijadikan teladan. Mereka lelah dengan banyaknya teori dan pengajaran tentang hidup dalam kebenaran. Yang mereka butuhkan saat itu adalah “sebuah alat peraga” dan “alat” itu adalah kita, para pemercaya Kristus.

Tuhan Yesus memberkati!

03 Juli 2016 – Menjadi Teladan (Role Model)

| Warta Jemaat | 0 Comments
About The Author
-

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>