Yehezkiel 3:1-3  Lalu firman-Nya kepadaku: “Hai anak manusia, makanlah gulungan kitab yang Kuberikan ini kepadamu dan isilah perutmu dengan itu.” Lalu aku memakannya dan rasanya manis seperti madu dalam mulutku.

Meski pada waktu itu umat Israel sedang berada di pembuangan di Babel akibat ketidaksetiaan mereka kepada Tuhan, namun Allah tetap ingin berbicara kepada umat-Nya tentang apa yang harus mereka lakukan dan tentang apa yang akan Tuhan lakukan terhadap mereka dan terhadap negeri yang telah mereka tinggalkan. Yehezkiellah yang pada masa itu ditunjuk Tuhan untuk menjadi penyampai perkataan-perkataan Tuhan, termasuk di antaranya berita-berita tentang pertobatan, pembangunan iman, pemulihan masa pembuangan, dan penghukuman.

Namun Tuhan tidak mau memakai Yehezkiel seperti sebuah alat atau robot penyampai perkataan Tuhan yang tidak dapat merasakan apa-apa. Tuhan ingin Yehezkiel menjadi orang pertama yang merasakan dan menikmati kelezatan perkataan Tuhan. Tuhan mau agar Yehezkiel mencerna, mengerti, dan mengalami setiap perkataan Tuhan sehingga melalui pengalaman itu ia dapat sungguh-sungguh memahaminya, sebelum kemudian ia menyampaikannya kembali kepada umat Tuhan.

Inilah pesan Tuhan bagi kita minggu ini. Masih perihal pesan yang sama, yaitu tentang bagaimana memiliki hati yang mudah diajar, hati yang terbuka untuk setiap perkataan firman Tuhan. Setiap kita, di visi “Generasi Terang” ini pasti rindu untuk menjadi saluran berkat Tuhan. Rindu melihat orang-orang mengalami pemulihan, melihat orang-orang dapat berbalik dari jalan-jalan dan pemahaman mereka yang salah. Namun sebelum kita menjadi seorang penyalur kebenaran, Tuhan mau agar kita sendiri yang terlebih dahulu menikmati, mengalami, dan merasakan lezatnya setiap perkataan-perkataan firman yang seperti manisnya madu.

Apa yang dimaksud dengan memakan firman Tuhan dan merasakannya seperti manisnya madu di dalam mulut?

(1). Memiliki pengertian yang benar tentang firman Tuhan

Maz.119:103-104  Betapa manisnya janji-Mu itu bagi langit-langitku, lebih dari pada madu bagi mulutku. Aku beroleh pengertian dari titah-titah-Mu, itulah sebabnya aku benci segala jalan dusta.

Dari manakah Daud sebagai seorang pemazmur, mendapat pengertian yang begitu mendalam tentang isi hati Tuhan, tentang maksud dan rencana Kerajaan Sorga, dibukakan banyak hal tentang pembentukan manusia ketika masih di dalam kandungan ibunya, dimana ia sangat bersyukur oleh karena kejadiannya begitu dahsyat dan ajaib, bahkan nubuat tentang kelahiran hingga kematian Yesus di atas kayu salib ia tuliskan dalam mazmurnya. Selain karena ia seorang penyembah Tuhan, semua pewahyuan itu didapatkan ketika ia mau membuka hatinya untuk diisi oleh perkataan-perkataan firman Tuhan.

Bagi Daud, menikmati “santapan” firman Tuhan sudah merupakan kegemarannya. Bukan saja sekedar menghargai firman Tuhan bagaikan ribuan keping uang emas, namun ia juga menelannya bagaikan madu yang menyehatkan tubuhnya. Ia menikmati perkataan demi perkataan Tuhan, merenungkannya siang dan malam, sehingga membentuk suatu dasar pengertian yang benar tentang kebenaran.

Hari-hari ini banyak orang tidak menjadikan firman Tuhan sebagai satu-satunya dasar kebenaran, mereka seringkali menjadikan pengalaman-pengalaman pribadinya sendiri sebagai dasar kebenaran, padahal segala sesuatu harus diuji terlebih dahulu oleh firman Tuhan. Atau ada juga yang menjadikan akal pikirannya sendiri yang sangat terbatas sebagai dasar kebenaran. Ada orang-orang yang menganggap pengalaman dengan orang tuanya atau anaknya sudah pasti sama dengan cara Tuhan bekerja kepada kita sebagai Bapa terhadap anak-anak-Nya. Semuanya itu seharusnya dilandasi oleh kebenaran firman Tuhan, seperti doa Yesus untuk murid-murid-Nya di Yohanes 17:17  Kuduskanlah mereka dalam kebenaran; firman-Mu adalah kebenaran.

(2). Menjadikan firman Tuhan sebagai makanan

Matius 4:4  Tetapi Yesus menjawab: “Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah.”

Yesus mengatakan hal itu ketika Ia dicobai oleh iblis yang menyuruh-Nya untuk mengubah batu menjadi roti. Bagi Yesus adalah sesuatu hal yang sangat mudah untuk mengubah batu menjadi roti, namun Ia tidak mau menjual kebenaran hanya untuk membuktikan kemahakuasaan-Nya di hadapan si iblis. Maka keluarlah satu pernyataan yang luar biasa dari Yesus yang menyatakan bahwa manusia hidup tidak cukup hanya dari makanan yang sekedar mengenyangkan tubuh jasmani saja, namun perlu makanan yang dapat mengenyangkan tubuh rohani, dan makanan itu adalah firman Tuhan.

Tidak salah kalau kita memerhatikan kesehatan tubuh kita dengan mengkonsumsi berbagai makanan yang bergizi. Bahkan hari-hari ini dunia kulinari (kuliner) berkembang menjadi ladang pekerjaan yang sangat menarik perhatian dan diminati banyak orang, karena teknologi dan pengetahuan tentang jasa boga ini sudah sedemikian pesat, sehingga membuat banyak orang sadar bahwa makanan tidak hanya sekedar untuk mengenyangkan perut saja, namun juga perlu diperhatikan dari sisi fungsinya bagi kesehatan termasuk seni dan teknik pengolahannya. Namun Tuhan mengingatkan kita melalui pesan-Nya bahwa ada makanan yang lebih penting yang sangat kita butuhkan, namun seringkali diabaikan banyak orang, yaitu firman Tuhan.

Kekuatan hidup manusia diperoleh bukan hanya dari tubuh jasmani saja, namun dari tubuh rohani, yang sesungguhnya sangat penting karena kesehatan tubuh rohanilah yang menentukan menang atau kalahnya seorang umat Tuhan dalam menjalani kehidupan. Makanan firmanlah yang sanggup untuk menumbuhkan iman percaya seseorang kepada Tuhan dan sekaligus mencelikkan mata rohaninya. Besarnya iman juga sangat menentukan seseorang dalam mengalami perkara-perkara yang dahsyat dari Tuhan. Rasul Paulus sendiri di akhir hidupnya berkata bahwa ia telah mencapai garis akhir dan ia telah memelihara iman, artinya, hidupnya selalu tidak lepas dari makanan kebenaran firman Tuhan yang membuat imannya senantiasa terpelihara dengan baik.

Mari umat Tuhan, sudah pasti kita tidak bisa mengabaikan pesan demi pesan Tuhan selama beberapa waktu terakhir ini tentang pentingnya memiliki roh yang mudah untuk diajar. Seorang yang memiliki roh yang mudah diajar tidak akan lalai dengan membiarkan dirinya tidak diisi oleh kebenaran firman Tuhan. Masa-masa ini, kita sedang memasuki tahun yang penuh goncangan dimana berbagai penyesatan dan kegelapan mencoba menguasai seluruh aspek kehidupan. Diperlukan orang-orang benar yang menjadikan firman Tuhan sebagai dasar yang kokoh, sehingga mampu menjalani hidup yang tidak tergoncangkan.

Tuhan Yesus memberkati!

03 Februari 2013 – Memakan Firman (Teachable Spirit Bag.3)

| Warta Jemaat | 0 Comments
About The Author
-

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>