2 Korintus 5:17-20 (20) Jadi kami ini adalah utusan-utusan Kristus, seakan-akan Allah menasihati kamu dengan perantaraan kami; dalam nama Kristus kami meminta kepadamu: berilah dirimu didamaikan dengan Allah.

Yesus adalah Allah yang Mahakuasa, pencipta alam semesta, tetapi Ia mau menjadi manusia, turun ke tempat yang paling rendah. Meskipun Ia adalah Tuhan, tapi Ia tidak menekankan keilahian-Nya itu (Flp. 2:7-8). Dia bahkan merendahkan diri-Nya sedemikan hingga menjadi sama seperti manusia. Meskipun tidak berdosa, Ia mau ada bersama barisan orang berdosa. Sebelum disalibkan, Dia memasuki Yerusalem bukan dengan mengendarai kereta kuda yang bagus, melainkan menunggangi anak keledai yang sederhana. Kemudian mati disalib, yang merupakan bentuk hukuman paling rendah pada masa itu. Hidup Yesus dari awal sampai akhir adalah hidup yang merendahkan diri. Sebagai hasilnya, Dia ditinggikan, disembah dan dikaruniakan Nama di atas segala nama.

Paulus mengajak jemaat Tuhan agar melihat keteladanan Yesus. Yesus menjadi jembatan penghubung antara Tuhan dan manusia. Yohanes mengatakan bahwa Yesus adalah Firman. Firman ini menjadi manusia dan tinggal di antara kita. Antara Tuhan dan manusia ada tembok penghalang, yaitu dosa. Namun, karya Kristus di kayu salib menghancurkan tembok penghalang ini. Yesus bukan pribadi yang hanya berkata dari tempat tinggi bahwa Ia akan menyelamatkan, melainkan pribadi yang turun sendiri ke dunia dan menyelamatkan kita. Demikianlah Yesus menjadi jembatan penghubung.

Jembatan adalah sebuah struktur atau sarana yang dibuat untuk menyambung dua area yang terpisah, yang membuat kita mampu melintasi rintangan, jurang atau sungai. Di wilayah-wilayah di mana kita berada, sering didapati banyak tipe jembatan. Ada jembatan sederhana berupa titian kayu untuk menyeberangi sungai, atau cuma mempergunakan dua utas tali, ada pula jembatan yang lebih baik dengan sistem pembangunan yang lebih kokoh dan modern. Satu hal yang pasti, jembatan-jembatan ini akan jauh mempermudah kita untuk mencapai tujuan.

Dalam menjalani hidup, seringkali kita pun butuh jembatan. Ingat saja bagaimana dahulu kita mengalami proses kelahiran baru, tanpa kita sadari ada orang-orang yang dipercaya untuk menjadi “jembatan” bagi kita. Ada orang yang bersedia menuntun dan menjelaskan tentang jalan keselamatan kepada kita. Ketika ada orang lain yang tidak tahu bagaimana bisa datang ke gereja, dan ketika ada orang yang bahkan tidak tahu cara membuka Alkitab, puji Tuhan, ada pribadi-pribadi yang rela bertindak sebagai jembatan bagi sesamanya, sehingga kita pun bisa menjadi diri kita hari ini. Tanpa mereka yang berfungsi sebagai jembatan penghubung dari hidup kita yang lama menuju hidup yang baru, mungkin kita tidak akan bisa bertumbuh menjadi seperti hari ini.

Inilah yang menjadi pesan Tuhan bagi kita di minggu ini. Tuhan tidak mau kita hanya menjadi orang-orang yang selalu dijembatani saja, namun mulailah berfungsi sebagai “jembatan” bagi orang lain. Kadang tanpa disadari, banyak orang percaya bukannya membangun jembatan, melainkan malah membangun tembok penghalang. Dari bahan baku misalnya bata, besi, semen, batu dan pasir, tanpa disadari seseorang memilih membangun sebuah tembok bagi dirinya, yang sebenarnya dengan bahan baku yang sama ia bisa membangun sebuah jembatan yang fungsinya dapat dirasakan oleh banyak orang. Artinya, sebetulnya kita telah diberikan segala kemampuan untuk menjadi “jembatan”, namun dengan kemampuan yang sama kita malah memilih untuk membangun suatu penghalang bagi sesama.

Beberapa hal yang perlu kita perhatikan untuk dapat berfungsi sebagai jembatan:
(1). Membangun jembatan bagi diri sendiri

2 Kor. 5:17 Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.

Masih banyak ditemukan orang-orang yang hidup di dalam kesendirian. Seringkali kesendirian terjadi bukan karena ia hidup sebatang kara atau tidak memiliki siapa-siapa, namun biasanya disebabkan karena fokus hidupnya lebih tertuju kepada dirinya sendiri. Orang seperti ini biasanya merasa diri minder dan tidak berguna sehingga merasa tidak ada orang yang mau peduli kepadanya. Pada saat itulah sesungguhnya ia mulai membangun benteng bagi dirinya. Orang yang hidup “menyendiri” dapat disebabkan oleh berbagai hal, di antaranya adalah takut dilukai lagi oleh karena di masa lalu pernah mengalaminya. Tidak mau menyatakan kasihnya karena takut mengalami penolakan sepert yang pernah dialami sebelumnya. Namun ingatlah bahwa di dalam Kristus kita semua adalah ciptaan yang baru, dimana yang lama sudah berlalu dan kasih Kristus telah dilimpahkan.

Kunci untuk mengatasi rasa kesendirian adalah dengan berhenti untuk terus membangun tembok, memagari diri sendiri dari sesama, dan mulailah membangun jembatan. Beranilah mengambil risiko dengan mulai memerhatikan orang lain. Perhatikanlah apa yang diperlukan dan mulailah belajar untuk menguatkannya. Di dalam Kristus, Ia telah memperlengkapi kita dengan kasih yang telah Ia nyatakan melalui salib, sehingga kita diberi kemampuan untuk melakukannya. Dan percayalah, saat mulai melakukannya, maka kita akan semakin merasakan kasih Kristus bertambah-tambah dicurahkan atas kita.

(2). Membangun jembatan bagi orang lain

2 Kor. 5:20 Jadi kami ini adalah utusan-utusan Kristus, seakan-akan Allah menasihati kamu dengan perantaraan kami; dalam nama Kristus kami meminta kepadamu: berilah dirimu didamaikan dengan Allah.

Alkitab mencatat adanya seorang pribadi yang berperan penting dalam proses transformasi kehidupan rasul Paulus. Pada waktu itu Paulus yang masih bernama Saulus, yang dikenal sebagai pembantai orang percaya yang sangat kejam dan sadis, sungguh mengerikan. Dalam Kisah Para Rasul 9:1-19, kita bisa melihat proses pertobatan Paulus yang mengharukan. Saulus memang sudah bertobat, tapi masalah tidak selesai sampai di situ karena ternyata orang tidak bisa memercayai dan menerima dirinya. Orang-orang masih curiga mengingat seperti apa dia di waktu lalu. Ia bahkan hampir dibunuh, ditolak di mana-mana. Untunglah ada seseorang yang berperan sebagai jembatan, sehingga ia pun akhirnya diterima di kalangan orang percaya. Orang itu adalah Barnabas.

Ini terjadi ketika Saulus masuk ke Yerusalem dan seperti biasa mengalami penolakan. Tetapi di situ ada Barnabas yang menerima dia dan membawanya kepada rasul-rasul, dan menceriterakan kepada mereka bagaimana Saulus melihat Tuhan di tengah jalan dan bahwa Tuhan berbicara dengan dia dan bagaimana keberaniannya mengajar di Damsyik dalam nama Yesus. Lewat Barnabas sang jembatan, akhirnya terjalinlah hubungan antara Saulus dengan rasul-rasul. Ia diterima, dan dengan keberanian mengajar dalam nama Tuhan di berbagai tempat. Ia menjadi orang yang begitu berpengaruh dalam pertumbuhan awal gereja-gereja, dan bahkan sampai hari ini kita masih bisa merasakan dampak pelayanannya.

Mari umat Tuhan, keselamatan dianugerahkan Tuhan untuk semua orang, tanpa terkecuali. Tapi ada kalanya orang membutuhkan jembatan untuk bisa mencapai jalan yang benar itu. Dan di situlah peran kita pun dibutuhkan. Jadilah jembatan seperti Barnabas dan bukan menjadi dinding penghalang.

Tuhan Yesus memberkati!

03 April 2016 – Membangun jembatan, bukan tembok

| Warta Jemaat | 0 Comments
About The Author
-

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>