Yoh. 20:22- 23 (22)  . . . “Terimalah Roh Kudus. (23) Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni, dan jikalau kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada.”

Pernyataan ini diberikan Yesus kepada murid-murid-Nya yang ketika itu sedang berkumpul dengan ketakutan di suatu tempat, dengan pintu terkunci rapat, tepat di hari Yesus bangkit dari kematian. Yesus tiba-tiba hadir di tengah murid-murid-Nya dengan membawa damai sejahtera sambil memperlihatkan tangan dan lambung-Nya sebagai bukti bahwa sungguh, Dialah yang telah disalib, mati, namun bangkit dari kematian mengalahkan maut. Kehadiran Yesus saat itu bukan hanya sekedar membuktikan kebangkitan-Nya dari kematian saja, namun juga sekaligus mengembusi murid-murid dengan Roh Kudus seraya mendelegasikan suatu amanat dan otoritas untuk mengampuni dosa orang.

Otoritas untuk mengampuni yang didelegasikan untuk pertama kalinya oleh Yesus kepada para murid-Nya membuktikan bahwa pengampunan bukanlah masalah yang sepele. Sebelum murid-murid dipercayakan untuk mengemban tugas Kerajaan, sepeninggal Yesus ke sorga, hal penting  pertama yang harus dimiliki para murid adalah hati yang penuh dengan pengampunan . Hal inipun berlaku bagi kita saat kita mengetahui bahwa kita adalah orang-orang yang juga dipercayakan amanat penting dari Bapa di Sorga. Ada masterplan Kerajaan yang harus kita tuntaskan, dan itu hanya bisa dilaksanakan dengan baik oleh mereka yang hatinya sudah dimerdekakan dari segala jenis perbudakan maupun belenggu.

Apa yang dapat kita pelajari lewat pesan Tuhan mengenai pengampunan ini?

(1), Mengampuni orang lain adalah sama dengan membebaskan diri kita dari belenggu.

Mat. 6:14-15  “Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di sorga akan mengampuni kamu juga.  Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu.”

Sebagai orang-orang yang sudah dimerdekakan oleh Yesus, kita saat inipun mengemban tugas untuk memerdekakan orang-orang yang masih terikat oleh belenggu supaya mereka juga beroleh kemerdekaan dalam Kristus (Luk. 4:18-19). Masih banyak didapati orang-orang yang hidup sebagai tawanan dosa dengan berbagai keterikatan dan luka batin, banyak orang yang secara mata jasmani dapat melihat, namun secara rohani masih tertutup oleh selubung yang membutakan. Mereka itulah orang-orang yang perlu dimerdekakan dan dicelikkan melalui kehadiran dan keberadaan kita sebagai duta-duta Kerajaan Sorga.

Namun, sebagaimana pesan Tuhan di atas, bahwa untuk bisa melepaskan seseorang dari belenggu dan keterikatan, maka pertama-tama kita sendirilah yang harus terlebih dahulu terbebas dari segala keterikatan. Dalam keadaan terikat atau terbelenggu, bagaimana mungkin kita dapat membebaskan orang lain dari belenggu ataupun ikatan mereka? Hanya orang merdeka yang dapat memerdekakan orang lain, sama seperti Kristus yang telah lebih dulu memerdekakan kita. Itulah sebabnya, Yesus mendelegasikan otoritas pengampunan terlebih dulu kepada kita, para murid-Nya, agar kita dapat berjalan sebagai orang yang merdeka dan dengan demikian kita dapat  melepaskan pengampunan kepada siapapun yang bersalah kepada kita. Seseorang yang tidak mau mengampuni kesalahan orang lain, sesungguhnya ia tidak lebih dari seorang budak yang masih tertawan. Dan tentu saja, seorang tawanan tidak dapat membebaskan sesama tawanan, hanya mereka yang sudah merdekalah yang dapat membebaskan dan mencelikkan tawanan.

(2). Kasih dan keintiman dengan Bapa di sorga adalah sikap dari orang yang sadar bahwa dosanya sudah diampuni.

Luk. 7:47  “Sebab itu Aku berkata kepadamu: Dosanya yang banyak itu telah diampuni, sebab ia telah banyak berbuat kasih. Tetapi orang yang sedikit diampuni, sedikit juga ia berbuat kasih.”

Perkataan Yesus ini ditujukan kepada Simon orang Farisi yang merendahkan sikap seorang perempuan berdosa yang datang menghampiri Yesus dengan menangis dan membasahi kaki Yesus dengan airmatanya, menyeka dengan rambutnya, serta meminyaki kaki Yesus dan menciuminya. Simon menyangka bahwa Yesus adalah seorang yang tidak peka, yang tidak mengetahui bahwa perempuan tersebut adalah seorang perempuan berdosa. Yesus sangat mengetahui siapakah perempuan itu sesungguhnya. Hanya saja Yesus hanya membiarkan perempuan itu, karena Ia paham bahwa tindakan yang dilakukan perempuan itu adalah ungkapan rasa kasih dan ucapan syukur atas dosanya yang besar yang sudah diampuni.

Sebaliknya, Yesus menegur Simon yang tidak menunjukkan sikap kasih dan syukurnya terhadap Yesus, karena ia tidak menyadari bahwa sesungguhnya dosanya pun telah diampuni.

Karena anugerah Tuhan yang begitu besar atas kita, maka kesalahan dan dosa kita telah diampuni dan itu bukanlah hasil usaha kita. Kita yang seharusnya binasa oleh pelanggaran kita di masa lalu, telah dihidupkan lewat pengorbanan Yesus di atas kayu salib. Menyadari akan hal tersebut, maka sepatutnya kita bersyukur dan menunjukkan kasih kita kepada Tuhan Yesus lewat ketaatan dan keintiman kita saat ini sebagai anak-anak-Nya.

(3). Kita mengampuni karena Yesus mengampuni kita

Yoh. 5:19  “Maka Yesus menjawab mereka, kata-Nya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya Anak tidak dapat mengerjakan sesuatu dari diri-Nya sendiri, jikalau tidak Ia melihat Bapa mengerjakannya; sebab apa yang dikerjakan Bapa, itu juga yang dikerjakan Anak.”

Ayat di atas adalah kesaksian Yesus tentang diri-Nya sendiri, bahwa apa saja yang Ia lakukan (ketika Ia berada di bumi sebagai manusia sejati), Ia lakukan karena melihat Bapa di Sorga telah melakukannya. Ini pula yang menjadi jawaban mengapa Yesus sungguh menjadi representasi dari pribadi Allah Bapa di Sorga. Dengan demikian,  ketika orang-orang melihat Yesus, maka sesungguhnya mereka telah melihat pribadi Bapa sendiri.

Pesan tentang pengampunan yang Tuhan berikan kepada ini, salah satunya bertujuan agar kita, sebagai anak, turut melakukan apa yang dilakukan oleh Bapa kita di Sorga. Itulah sebabnya, kepada kita telah diberikan amanat dan otoritas untuk mengampuni, dengan tujuan agar kitapun mengampuni sebagaimana Bapa di Sorga mengampuni kita dan mengampuni seluruh umat manusia di bumi.

Ketika kita melakukan apa yang Bapa di Sorga lakukan, maka sesungguhnya kita ada dalam posisi sebagai anak-anak terang. Definisi anak-anak terang adalah mereka yang turut melakukan perbuatan-perbuatan yang dilakukan oleh Bapa di Sorga.

Umat Tuhan, kita semua menantikan kedatangan Yesus kedua kali, dan Ia akan datang seperti pencuri di waktu malam. Melalui pesan-Nya minggu lalu, Tuhan menghendaki agar kita tetap sadar dan berjaga-jaga sebagai anak-anak terang dan anak-anak siang. Anak-anak terang adalah mereka yang tetap tinggal di dalam Bapa, melakukan apa yang Bapa lakukan, dan salah satunya adalah dengan hidup dalam pengampunan. Pengampunan yang kita lakukan membebaskan kita dari belenggu dan ikatan. Amin.

Tuhan Yesus memberkati!

01 Juli 2012 – Pengampunan (Warga Kerjaaan Sorga Bag-5)

About The Author
-

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>