2 Raj. 4: 4 Kemudian masuklah, tutuplah pintu sesudah engkau dan anak-anakmu masuk, lalu tuanglah minyak itu ke dalam segala bejana. Mana yang penuh, angkatlah!”

Ini adalah kisah tentang seorang janda yang datang kepada Elisa untuk mengadukan masalah yang dihadapinya sepeninggal mendiang suaminya. Atas tuntunan Tuhan, maka Elisa memerintahkan janda itu untuk mengumpulkan bejana sebanyak mungkin untuk ia tuangkan dengan minyak dari buli-buli yang janda itu miliki sebelumnya. Maka seberapa banyak bejana yang wanita itu sediakan, maka sebanyak itu pula minyak mengalir memenuhi bejana-bejana tersebut sampai tidak ada lagi bejana yang cukup untuk menampungnya, maka berhentilah minyak itu mengalir. Dari hasil kelimpahan minyak yang dimiliki, maka janda itu dapat mengatasi masalah yang dihadapinya dengan menjual sebagian dari hasil tersebut dan hidup dari sisanya.

Ini merupakan pesan Tuhan bagi kita, bahwa pada setiap kita sesungguhnya telah diberikan bejana (dan kita adalah bejana itu sendiri) dan bejana tersebut harus senantiasa terisi penuh dengan air atau minyak ilahi yang akan terus tertuang ketika kita menjalin hubungan dengan Tuhan. Minyak itu sangatlah kita butuhkan dalam segala perkara apapun yang kita hadapi, karena lewat kepenuhan-Nya lah kita dituntun dalam banyak hal yang membawa kita kepada kemenangan.

Lewat kepenuhan-Nya Tuhan dapat melakukan banyak hal melalui kita, diantaranya:

(1). Menyampaikan tuntunan-Nya
2 Raj. 3: 14-15 Maka sekarang, jemputlah bagiku seorang pemetik kecapi.” Pada waktu pemetik kecapi itu bermain kecapi, maka kekuasaan TUHAN meliputi dia. “Beginilah firman Tuhan:…

Ketika Moab memberontak kepada kerajaan Israel, maka Yoram raja Israel mengajak Yosafat raja Yehuda untuk turut bersama-sama memerangi Moab. Namun raja Yosafat menyatakan bahwa ia baru akan melakukannya apabila ada pernyataan dari Tuhan terlebih dahulu bahwa ia diperbolehkan untuk melakukannya. Karena ia tahu, ketika Tuhan memerintahkannya, maka Tuhan pula yang akan memberitahukan strategi-strateginya. Maka dipanggilah nabi Elisa untuk menanyakannya kepada Tuhan. Dalam kepenuhan-Nya, Tuhan berbicara kepada Elisa tentang hal-hal yang harus dilakukan para raja itu dalam rangka peperangannya melawan Moab.

Kita saat ini sedang memasuki visi generasi Elisa, dimana kita adalah “Elisa-elisa” tersebut yang dipercayakan akan perkataan-perkataan Tuhan. Bangsa kita membutuhkan para Elisa-elisa untuk menyampaikan perkataan-perkataan ilahi untuk memberkati pemerintahan kota dan bangsa kita, bukan untuk turut mengutukinya. Bagaimana kita memperoleh perkataan-perkataan Tuhan yang membawa kepada kemenangan tersebut? Ketika kita mau datang kehadirat-Nya, dalam kepenuhan kuasa ilahi-Nya maka kita dapat menangkap isi hati Tuhan, baik bagi negeri, baik bagi tantangan diri pribadi kita sendiri.

Seperti seorang janda yang datang kepada Elisa mengadukan masalahnya, dalam tuntunan Tuhan ia diperintahkan untuk melakukan ini dan itu dan diujungnya ia mengalami kemenangan. Hal yang samapun akan kita alami, apapun masalah yang kita hadapi, waktu kita mau datang kehadirat-Nya dan membiarkan aliran-aliran air hidup-Nya memenuhi kita, maka percayalah bahwa dari sana Ia akan memberikan arahan dan tuntunan-Nya untuk kita lakukan. Yang diperlukan adalah seberapa kita rindu untuk mau melakukan apa yang diperintahkan-Nya kepada kita.

(2). Menyatakan (visi) penglihatan ilahi dan cara pandang yang benar.
Kis. 10: 9- 10…naiklah Petrus ke atas rumah untuk berdoa.    Ia merasa lapar dan ingin makan, tetapi sementara makanan disediakan, tiba-tiba rohnya diliputi kuasa ilahi. Tampaklah olehnya langit terbuka…

Peristiwa di atas dialami Petrus ketika ia naik ke atas rumah untuk berdoa, namun Roh Allah memenuhinya dan diperlihatkanlah ia mengenai sesuatu yang tidak pernah ia alami sebelumnya. Petrus dalam kepenuhan-Nya kemudian dibawa kepada seseorang bernama Kornelius, seorang perwira pasukan Italia yang saleh dan takut akan Allah. Perjumpaan antara Petrus dengan Kornelius membuat sesuatu yang luar biasa terjadi. Ketika Petrus sedang menjelaskan tentang Yesus di hadapan Kornelius dan sanak keluarganya serta sahabat-sahabatnya, maka lawatan kuasa Roh Allah terjadi atas mereka. Hari itu juga mereka memberikan dirinya untuk dibaptis.

Lewat peristiwa tersebut, selain Petrus mengalami pengalaman ilahi tentang suatu penglihaan yang membawa kepada keselamatan jiwa-jiwa, di situ Petrus juga mengalami suatu cara pandang yang baru tentang keselamatan. Keselamatan ternyata adalah bukan milik bangsa Yahudi saja, namun milik bangsa-bangsa lain juga.

Dalam kepenuhan Roh Kudusnya, Tuhan bukan hanya sekedar membawa kita untuk melihat hal-hal yang supranatural untuk kita sampaikan di alam dunia ini saja, namun ada cara pandang yang Tuhan mau ubahkan juga dalam kehidupan kita. Setiap kita sesungguhnya sedang dituntun untuk memiliki cara pandang seperti cara Kristus memandang. Kalau Tuhan hari-hari ini mengingatkan kita untuk menjadikan Dia sebagai Kepala, tentunya bukan sekedar kita mengucapkan di mulut saja, namun Ia mau kita memiliki cara pandang yang benar pula.

(3). Memampukan kita untuk bertindak lebih
Mat. 5: 40- 41 Dan kepada orang yang hendak mengadukan engkau karena mengingini bajumu, serahkanlah juga jubahmu. Dan siapa pun yang memaksa engkau berjalan sejauh satu mil, berjalanlah bersama dia sejauh dua mil.

Pasukan Romawi pada waktu itu memerintahkan orang-orang sipil untuk membawa beban berat dari satu penanda mil ke penanda berikutnya. Hal ini sudah merupakan beban berat bagi orang-orang, dan banyak yang mengeluh dan bersungut-sungut karena perintah tersebut. Namun Yesus mengajarkan orang-orang pada waktu itu untuk berani memanggul beban sejauh dua mil. Dalam hal ini Yesus sedang menekankan pentingnya kesungguhan dalam melakukan pekerjaan dan dalam melakukan pelayanan. “Berjalan satu mil” adalah suatu kewajiban, namun “berjalan dua mil” adalah melampaui apa yang diharapkan banyak orang. Hari-hari ini setiap kita, anak-anak Tuhan, dituntut untuk dapat memberikan yang terbaik dalam melakukan sesuatu yang dipercayakan kepada kita.

Darimana kita memperoleh kekuatan untuk dapat memberikan yang terbaik? Semua didapat ketika kita dipenuhi dengan kepenuhan-Nya. Karena ketika kita berjalan dalam kepenuhan Kristus, maka fokus kita, semangat, kemampuan, gairah dan tujuan untuk mempermuliakan Yesus sungguh menjadi motivasi kita. Kalau kita menyadari betapa pengorbanan Yesus di atas kayu salib adalah suatu harga mahal yang Yesus berani lakukan bagi kita, maka tidak ada perbuatan lain yang dapat kita lakukan untuk membalasnya selain hidup untuk mempermuliakan nama-Nya di setiap bidang yang Tuhan percayakan kepada kita.

Mari umat Tuhan, di generasi Elisa ini Tuhan sungguh mau kita tampil sebagai orang-orang yang bukan saja memberkati gereja dimana kita bernaung, namun juga memberkati sesama, kota dan bangsa. Itulah sebabnya diperlukan pengurapan berganda, yaitu hidup dalam kepenuhan-Nya.

Tuhan Yesus memberkati!

01 Apr 2012 – Pribadi yang Mengalami Kepenuhan (Dipilih menjadi pemimpin bag.ke-9)

| Warta Jemaat | 0 Comments
About The Author
-

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>